BANTEN — Penang selalu punya cara untuk memikat wisatawan yang datang dengan waktu terbatas. Kota tua George Town, yang masuk daftar Warisan Dunia UNESCO, menawarkan pengalaman berjalan kaki yang padat akan sejarah dan toleransi antaragama. Kawasan ini menjadi bukti nyata bagaimana enam tempat ibadah dari enam kepercayaan berbeda bisa hidup berdampingan secara harmonis.
Bersama TransNusa dan Malaysia Tourism, saya berkesempatan mengikuti tur berjalan kaki 'Streets of Harmony George Town' bersama Harmonico. Tur ini membawa peserta menyusuri Jalan Harmoni, sebuah kawasan yang menjadi cermin kerukunan umat beragama di Malaysia. Sepanjang rute, wisatawan akan disuguhkan arsitektur khas abad ke-18 hingga awal 1900-an yang masih terawat sempurna.
Jalan Harmoni di George Town bukan sekadar jalan biasa. Di sepanjang rute ini berdiri enam tempat ibadah penting yang masing-masing memiliki cerita sejarahnya sendiri. Wisatawan bisa mengunjungi semuanya dalam satu kali perjalanan jalan kaki yang nyaman.
Gereja Assumption menjadi gereja Katolik tertua di Penang dan tertua ketiga di Malaysia. Didirikan tahun 1787 oleh misionaris Prancis Pastor Arnaud-Antoine Garnault, gereja ini dipindahkan ke Farquhar Street pada 1860. Di dalamnya tersimpan organ pipa tertua di Malaysia yang dipasang sejak 1916.
Tidak jauh dari sana, Gereja Anglikan St George berdiri megah sebagai gereja Anglikan tertua di Asia Tenggara. Dibangun di Pitt Street, gereja ini merupakan salah satu dari 50 harta karun nasional Malaysia. Arsitekturnya dirancang oleh Gubernur Pulau Prince of Wales dengan visi menyambut orang-orang dari seluruh dunia.
Kuil Kuan Yin atau Goddess of Mercy Temple dibangun para pendatang awal dari China dengan praktik Feng Shui kuno. Pada 1800-an, kuil ini menjadi pusat komunitas Tionghoa untuk memuja Dewi Laut demi keselamatan pelaut. Hingga kini, kuil tersebut tetap ramai dikunjungi warga dan turis yang berdoa untuk kesembuhan dan keberkahan hidup.
Berjalan sedikit lagi ke Queen Street, kawasan Little India, wisatawan akan menemukan Arulmigu Sri Mahamariamman, kuil Hindu tertua di pulau ini. Dibangun awal 1900-an untuk menyambut pendatang India, kuil ini kini menjadi pusat kawasan Little India yang ramai dengan generasi lama maupun baru keturunan India.
Masjid Kapitan Keling menjadi pusat kegiatan Islam bagi komunitas Muslim India dan merupakan masjid jami' pertama di George Town. Arsitekturnya dipengaruhi pendirinya, pedagang Muslim India bernama Cauder Mydin Merican. Masjid ini termasuk langka karena menyelenggarakan khotbah mingguan dalam bahasa Tamil dan Melayu.
Masjid Melayu Lebuh Acheh, dibangun 1808 oleh pedagang Aceh keturunan Arab, menjadi salah satu masjid tertua di Penang. Menara bergaya Arab dan atap khas Aceh menjadi ciri khas yang mudah dikenali dari bangunan ini.
Setelah puas menjelajahi rumah-rumah ibadah, wisatawan bisa melanjutkan perjalanan ke Esplanade atau Padang Kota Lama. Kawasan ini menawarkan jalan setapak dengan pemandangan langsung ke Selat Malaka, bangunan peninggalan kolonial Inggris, dan pusat kuliner. Jangan lewatkan Fort Cornwallis, Gedung Balai Kota, dan Sea Wall Heritage Trail saat berada di sini.
Untuk urusan perut, Hameed Pata Mee Sotong di kawasan Esplanade Park menjadi pilihan tepat mencicipi street food lokal. Sementara untuk makan siang, Muthu Banana Leaf Restaurant menyajikan nasi kuah kari dan ayam yang disajikan di atas daun pisang, pengalaman kuliner khas India yang otentik.
Walking tour 'Streets of Harmony' bisa dipesan melalui berbagai online travel agent. Harganya mulai dari Rp 1,6 jutaan, termasuk pendampingan pemandu yang menjelaskan sejarah setiap bangunan. Untuk informasi harga dan jadwal terkini, wisatawan disarankan mengecek langsung di platform pemesanan masing-masing.
Satu hari di George Town memang cukup untuk merasakan denyut kota tua ini. Kombinasi walking tour religi, eksplorasi kawasan bersejarah, dan wisata kuliner menjadikan Penang destinasi ideal untuk liburan singkat yang padat pengalaman.