Letusan Krakatau 1883 Ubah Warna Langit hingga Eropa dan Amerika

Penulis: Aditya Nugraha  •  Sabtu, 05 September 2026 | 10:52:02 WIB
Langit di Eropa dan Amerika dilaporkan memerah akibat aerosol vulkanik Krakatau 1883 yang menyebar di atmosfer.

BANTEN — Dampak letusan Gunung Krakatau 1883 melampaui batas geografis Nusantara. Material vulkanik yang terlontar ke atmosfer menyebar mengikuti sirkulasi udara global, menciptakan fenomena optik yang tercatat dalam berbagai laporan media internasional pada akhir abad ke-19.

Fenomena Langit Merah dan Bulan Biru di Belahan Bumi Lain

Pada November 1883, The New York Times melaporkan langit di cakrawala barat tiba-tiba menyala merah dan membuat orang-orang di jalan terkejut. Warna merah terang hingga ungu mendominasi saat Matahari terbenam, disertai semburat hijau yang tidak biasa.

Bulan juga dilaporkan tampak kebiruan atau kehijauan dalam kondisi tertentu. Perubahan visual ini terjadi karena partikel aerosol vulkanik Krakatau memengaruhi cara cahaya Matahari tersebar di atmosfer.

Dalam kondisi normal, langit senja berwarna kemerahan karena cahaya biru lebih banyak tersebar saat melewati atmosfer. Keberadaan aerosol vulkanik memperkuat efek tersebut secara dramatis.

Penurunan Suhu Global Pasca-Letusan

Dampak letusan tidak berhenti pada perubahan warna langit. Partikel sulfat yang mencapai stratosfer membantu memantulkan sebagian radiasi Matahari kembali ke angkasa, sehingga suhu rata-rata global turun sekitar 0,5 hingga 0,6 derajat Celsius dalam periode setelah letusan.

Penurunan suhu ini berlangsung sementara sebelum perlahan kembali menuju kondisi normal. Peristiwa tersebut menjadi salah satu contoh nyata bagaimana aktivitas vulkanik besar di Indonesia dapat memengaruhi iklim dalam skala planet.

Spekulasi Inspirasi Lukisan The Scream

Langit merah pasca-letusan Krakatau pernah dikaitkan dengan lukisan terkenal The Scream karya Edvard Munch. Pelukis asal Norwegia itu menggambarkan pengalamannya melihat langit yang tiba-tiba berubah menjadi "merah darah" saat berjalan bersama teman-temannya.

Sejumlah peneliti mengusulkan bahwa pemandangan dramatis yang dilihat Munch mungkin berkaitan dengan efek atmosfer setelah letusan Krakatau. Namun, teori ini masih diperdebatkan dan belum menjadi penjelasan yang dipastikan kebenarannya.

Kronologi Bencana di Selat Sunda

Aktivitas Krakatau meningkat sejak Mei 1883 dan mencapai puncaknya pada 27 Agustus 1883. Ledakan besar menghancurkan sebagian besar pulau dan memicu tsunami dahsyat di pesisir Jawa dan Sumatra.

Lebih dari 36.000 orang diperkirakan meninggal dunia akibat letusan dan tsunami yang menyertainya. Ratusan permukiman hancur, sementara suara ledakan terdengar hingga ribuan kilometer dari lokasi bencana.

Gelombang tekanan atmosfer yang dihasilkan letusan tercatat mengelilingi planet beberapa kali sebelum mereda. Material vulkanik dalam jumlah sangat besar terus menyebar mengikuti sirkulasi atmosfer selama berbulan-bulan.

Letusan Krakatau 1883 meninggalkan jejak yang benar-benar mendunia. Bencana yang bermula di Selat Sunda itu tidak hanya menimbulkan kehancuran besar di Indonesia, tetapi juga mengubah pemandangan langit ribuan kilometer jauhnya.

Reporter: Aditya Nugraha
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top