BANTEN — Gunung Anak Krakatau, gunung api aktif tipe A yang berada di perairan Selat Sunda, tengah menunjukkan aktivitas vulkanik yang intensif. Secara administratif, gunung ini masuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, namun pengamatannya dilakukan dari dua pos, yaitu di Kalianda (Lampung Selatan) dan Pasauran (Kabupaten Serang, Banten). Bagi Anda yang berencana berlibur ke kawasan sekitar Selat Sunda, status Siaga Level III ini menjadi informasi penting sebelum menentukan rute perjalanan.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menjelaskan bahwa sejak 2 Juli 2026, gunung ini berada pada Level III (Siaga). Rentetan erupsi tipe Strombolian yang melontarkan batu pijar dan abu vulkanik telah berlangsung hingga 5 September 2026.
Puncak aktivitas terjadi pada 5 September 2026 pukul 23.07 WIB, saat Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai suara gemuruh. Hingga Sabtu pagi (5/9/2026) pukul 04.40 WIB, erupsi masih berlangsung dan suara gemuruh masih terdengar jelas dari Pos PGA Krakatau Pasauran.
"Tinggi kolom erupsi tidak teramati, akan tetapi warna merah menyala semburan erupsi terlihat jelas secara menerus. Fenomena erupsi ini menyerupai lava fountain atau lava air mancur yang menghasilkan aliran lava," ujar Lana Saria dalam keterangan resminya.
Fenomena erupsi menerus dalam durasi beberapa jam yang berasosiasi dengan lava air mancur ini dinilai sebagai kejadian umum. Suara dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung diduga kuat berkaitan dengan aktivitas erupsi yang berlangsung pada waktu bersamaan tersebut.
Pertanyaan besar yang muncul di benak traveler tentu terkait keamanan, terutama mengingat sejarah kelam letusan 1883 yang memicu tsunami dahsyat. Badan Geologi memberikan catatan penting: setelah erupsi besar 22 Desember 2018 yang memicu tsunami di Selat Sunda, seri erupsi berskala rendah terus berlangsung sebagai fase konstruksi pertumbuhan kembali tubuh gunung hingga 16 Desember 2023. Jeda erupsi cukup lama terjadi, sebelum akhirnya kembali aktif pada 2 Juli 2026.
Lana Saria menegaskan bahwa berdasarkan hasil evaluasi, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca erupsi 2018 masih relatif kecil. Kondisi ini dinilai tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.
"Meskipun demikian, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologinya tetap dipantau secara intensif," tambahnya.
Bagi wisatawan yang tetap ingin melanjutkan perjalanan ke kawasan pesisir Lampung atau Banten, penting untuk memantau informasi resmi dari Badan Geologi dan PVMBG. Hindari mendekati area kawah atau radius yang direkomendasikan untuk dikosongkan. Aktivitas erupsi yang masih berlangsung membuat kondisi cuaca dan jarak pandang di sekitar Selat Sunda berpotensi berubah sewaktu-waktu.
Jika Anda berencana menyebrang menggunakan kapal feri dari Bakauheni menuju Merak, pastikan untuk mengecek jadwal pelayaran karena aktivitas abu vulkanik dapat mempengaruhi operasional. Untuk informasi terkini mengenai status gunung dan rekomendasi jarak aman, konfirmasi langsung ke pos pengamatan terdekat atau kanal resmi Badan Geologi sebelum berangkat.