BANTEN — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan capaian tersebut dalam Simposium Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Selasa (8/9). Angka ini, menurutnya, membuktikan konsistensi pertumbuhan sektor keuangan syariah domestik dalam beberapa tahun terakhir.
"Aset keuangan syariah sudah mencapai Rp 3.131 triliun dan berada di posisi empat besar bersama Malaysia, UAE, Arab Saudi, dan Bahrain," ujar Airlangga.
Dari sisi penyaluran dana, perbankan syariah tumbuh 9,92 persen. Total pembiayaan yang disalurkan mencapai Rp 643,5 triliun.
Kredit Usaha Rakyat (KUR) syariah menjadi motor penggerak. Skema ini menjangkau 88.613 debitur baru, sehingga akumulasi penerima mencapai 1,61 juta debitur.
Ekosistem halal nasional menunjukkan perkembangan signifikan. Pemerintah telah menerbitkan 4,4 juta sertifikat halal bagi 3,47 juta pelaku usaha dan 14,68 juta produk.
Di tingkat internasional, Indonesia menjalin Mutual Recognition Agreement (MRA) produk halal dengan 39 negara. Pengakuan timbal balik ini membuka jalan penetrasi produk nasional ke pasar global.
Meski demikian, Airlangga menyoroti hambatan yang masih dihadapi pelaku UMKM. "Sertifikasi halal pemerintah sudah memberikan secara gratis, namun kapasitas untuk memberikan secara self-reporting ini masih juga terkendala," tuturnya.
State of the Global Islamic Economy Report menempatkan Indonesia di posisi pertama dunia untuk sektor modest fashion. Prestasi ini menegaskan daya saing produk tekstil dan fesyen lokal di kancah internasional.
Potensi pasarnya kian luas. Belanja konsumen muslim dunia mencapai Rp 2,6 triliun pada 2024 dan diproyeksikan naik menjadi Rp 3,56 triliun pada 2029.
Airlangga menilai penguatan infrastruktur, kesiapan sumber daya manusia, dan tata kelola menjadi kunci memperkuat sinergi antara UMKM dan industri keuangan syariah ke depan.