BANTEN — Jensen Huang naik ke panggung All-In conference di Los Angeles dengan jaket kulit alligator khasnya. Di tengah sesi, telepon berdering. Trump ada di ujung sana. Huang mengangkatnya, menaruh panggilan di speaker, dan ribuan orang di ruangan langsung bersorak.
Yang menarik bagi sebagian pengamat bukan isi percakapan, melainkan benda di tangan Huang. Ia menerima panggilan itu dengan iPhone foldable terbaru Apple, perangkat yang belum dijual ke publik dan baru akan masuk toko dalam lima minggu ke depan.
Dari bahan yang tersedia, iPhone foldable ini dibanderol 1.999 dolar AS atau sekitar Rp 33 juta dengan kurs estimasi Rp 16.500 per dolar. Angka itu menempatkannya di segmen ponsel lipat premium, bersaing langsung dengan Samsung Galaxy Z Fold series dan Google Pixel Fold.
Apple belum merilis spesifikasi lengkap perangkat ini secara resmi. Yang jelas, iPhone foldable menjadi perangkat lipat pertama Apple setelah bertahun-tahun menahan diri masuk ke kategori tersebut.
Setelah Trump tersambung di speaker, topik bergeser ke keamanan AI. Trump menyebut kekhawatiran yang berkembang soal AI sebagai "hoax". Menurutnya, yang paling diuntungkan dari kepanikan seputar AI adalah China dan "orang-orang politik".
Trump juga menilai teknologi AI terlalu besar untuk diperlambat. "Lebih besar dari internet," ujarnya, seperti dikutip dari percakapan tersebut. Huang merespons dengan nada antusias: "Dengar itu? Ribuan orang bertepuk tangan."
Posisi Nvidia di pasar chip AI membuat Huang punya kepentingan langsung dalam narasi ini. Model bisnis perusahaan bergantung pada lab AI yang terus membeli chip dalam jumlah besar. Menurunkan risiko eksistensial AI sejalan dengan menjaga harga saham. Saham Nvidia masih naik 33 persen dalam setahun terakhir, meski turun beberapa poin persen pada hari yang sama.
Ada ironi yang layak dicatat. Sekitar satu dekade lalu, Apple berhenti memakai hardware Nvidia di perangkatnya sendiri. Kini, Apple membutuhkan Nvidia untuk menjalankan sebagian fitur Apple Intelligence.
Artinya, hubungan kedua perusahaan yang sempat renggang kini kembali terjalin, setidaknya di level komponen AI. Kehadiran iPhone foldable di tangan Huang, yang notabene bos Nvidia, bisa dibaca sebagai sinyal bahwa kolaborasi keduanya makin erat.
Belum ada informasi resmi soal ketersediaan di Indonesia. Apple biasanya merilis produk baru di pasar utama lebih dulu, disusul pasar Asia Tenggara beberapa bulan kemudian.
iPhone foldable ini menyasar pengguna Apple yang sudah lama menunggu perangkat lipat dari ekosistem iOS. Harganya di atas Rp 30 juta menempatkannya sebagai perangkat status, bukan pembelian impulsif.
Bagi pengguna Indonesia, keputusan membeli sebaiknya menunggu harga resmi dan ketersediaan lokal. Faktor pajak dan biaya impor biasanya membuat harga di Indonesia lebih tinggi dari harga AS.