TANGERANG — Abdul Kadir Karding menegaskan florikultura kini menjadi bagian penting dari ekonomi hijau, industri kreatif, inovasi, penyerapan lapangan kerja, dan peluang ekspor nasional. Pameran florikultura internasional bertema "United by Nature" itu mempertemukan petani, breeder, nursery, pelaku usaha, hingga pemerintah. Kolaborasi tersebut dinilai diperlukan agar biodiversitas dan potensi tanaman Indonesia dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
"Keindahan tanaman harus mampu kita transformasikan menjadi nilai tambah dan daya saing Indonesia," ujar Karding.
Data sistem layanan karantina Best Trust per 14 September 2026 mencatat nilai ekspor florikultura sepanjang 2025 mencapai Rp 4,42 triliun. Volume pengirimannya 93,9 juta komoditas ke 95 negara. Sementara pada periode 1 Januari–14 September 2026, nilai ekspor mencapai Rp 3,51 triliun dengan volume 59,6 juta komoditas dan menjangkau 96 negara.
Sejumlah komoditas yang tercatat dalam ekspor tersebut antara lain bunga krisan, bibit krisan, bibit lilium, bibit Saintpaulia, tanaman akuarium, hingga berbagai bibit tanaman hias.
Barantin menilai pengembangan pasar florikultura perlu dibarengi pemenuhan persyaratan karantina dan ketentuan negara tujuan. Perdagangan tanaman lintas negara tidak hanya menyangkut kepentingan ekonomi, tetapi juga risiko penyebaran organisme pengganggu tumbuhan serta perlindungan biodiversitas.
"Ketika tanaman Indonesia terbang ke luar negeri, yang kita bawa bukan sekadar komoditasnya. Namun juga nama baik, reputasi, dan kepercayaan pasar dunia terhadap Indonesia," kata Karding.
Peran karantina kini tidak hanya berkaitan dengan pengawasan lalu lintas komoditas. Barantin mendorong fasilitasi perdagangan dengan tetap menjalankan fungsi perlindungan keamanan hayati atau biosecurity. Upaya itu dilakukan melalui penguatan sistem berbasis risiko, integrasi layanan, serta pemanfaatan teknologi digital.
FLOII Expo 2026 disebut sebagai pameran florikultura terbesar di Indonesia. Tahun ini, pameran menghadirkan lebih dari 120 peserta serta pelaku industri dari lima negara, termasuk Thailand, Taiwan, Cina, dan Ekuador.
"Kehadiran para pelaku global ini juga membuktikan bahwa Indonesia kini menjadi salah satu poros penting dalam peta florikultural dunia. Dan ini sangat membanggakan," ujar Steering Committee FLOII, Rustika Herlambang.
FLOII Expo 2026 juga menjadi momentum menjelang peringatan Hari Karantina Indonesia ke-149 dan HUT ke-3 Barantin yang jatuh pada 18 Oktober 2026.