BANTEN — Nilai tukar rupiah menutup pekan di level Rp17.758 per dolar AS, melemah 0,83% dibandingkan posisi Jumat pekan sebelumnya di Rp17.611. Tekanan datang dari ketidakpastian pasokan energi global setelah gangguan pipa minyak Arab Saudi, sementara pelaku pasar menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 22-23 September 2026.
Data Bloomberg menunjukkan rupiah pada Jumat ditutup melemah tipis 0,03% ke Rp17.758 per dolar AS dari posisi perdagangan sebelumnya. Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah menjadi tujuh sesi perdagangan berturut-turut.
Bank Indonesia mencatat kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di Rp17.745 per dolar AS, turun 0,04% dibandingkan sehari sebelumnya. Secara mingguan, JISDOR melemah 0,76% dari Rp17.611 per dolar AS pada Jumat pekan lalu.
Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut pasar lebih fokus pada sinyal pemulihan aliran minyak Arab Saudi melalui pipa Timur-Barat. Pipa tersebut sempat rusak akibat serangan pesawat nirawak pekan lalu.
"Pasar justru lebih mencermati tanda-tanda Arab Saudi mungkin dapat memulihkan sebagian aliran minyak melalui pipa Timur-Barat miliknya, yang sempat rusak akibat serangan pesawat nirawak (drone) pekan lalu," kata Ibrahim dalam risetnya, Jumat (18/9/2026).
Ketidakpastian pasokan energi global membuat pelaku pasar menahan posisi terhadap mata uang negara berkembang. Rupiah termasuk yang paling tertekan di kawasan Asia sepanjang pekan ini.
Selain faktor geopolitik, pergerakan imbal hasil US Treasury (UST) turut memengaruhi arah rupiah. Kenaikan yield UST biasanya menarik modal asing keluar dari pasar domestik menuju aset berdenominasi dolar.
Perhatian pasar kini beralih ke Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dijadwalkan pada 22-23 September 2026. Hasil RDG akan menjadi sinyal arah kebijakan suku bunga dan stabilisasi kurs dalam menghadapi tekanan eksternal.
Pelemahan rupiah yang berlanjut memberi tekanan langsung pada importir bahan baku dan perusahaan dengan utang dolar AS. Biaya impor naik, sementara pendapatan dalam rupiah tidak berubah.
Eksportir justru mendapat angin segar karena penerimaan dolar mereka setara lebih banyak rupiah. Namun, ketidakpastian kurs membuat perencanaan arus kas jangka pendek lebih sulit.
Pelaku pasar obligasi juga mencermati dampak pelemahan kurs terhadap imbal hasil Surat Berharga Negara. Tekanan jual dari investor asing berpotensi muncul jika rupiah terus melemah mendekati level psikologis tertentu.
Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas selama pasar menanti kepastian pasokan minyak global dan hasil RDG BI. Intervensi Bank Indonesia di pasar valas diperkirakan tetap berlanjut untuk menjaga stabilitas.
Jika Arab Saudi benar-benar memulihkan aliran minyak melalui pipa Timur-Barat, tekanan terhadap rupiah bisa mereda. Sebaliknya, eskalasi geopolitik baru akan memperbesar risiko pelemahan lebih lanjut.