LEBAK — Plt Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak Imam Suangsa menyatakan, ke-78 KDMP yang sudah aktif itu bergerak di tujuh unit usaha. Mulai dari kantor koperasi, kios sembako, simpan pinjam, klinik kesehatan, apotek desa, hingga sistem pergudangan dan cold storage.
Koperasi-koperasi ini belum menerima penyertaan modal dari PT Agrinas Nusantara Pangan. Seluruh operasional saat ini dibiayai secara mandiri oleh anggota melalui simpanan pokok dan simpanan wajib bulanan.
Anggota KDMP merupakan pelaku UMKM yang produknya ditampung di kios sembako koperasi. Jenis produksi didominasi camilan seperti keripik stik ubi, singkong, bahwal, rempeyek ikan, stik bawang, rempeyek tempe, pisang sale, kembang goyang, roti, dan kentang goreng.
Selain itu, koperasi juga menampung hasil komoditas perkebunan, pertanian, peternakan, dan perikanan. Produk unggulan meliputi gula aren dari pohon aren, kaceprek dari pohon melinjo, serta bakso ikan, kerupuk ikan, abon ikan, dan bolu ikan dari perikanan tawar dan tangkap.
Ketua KDMP Desa Pondok Panjang Aep Saepudin mengungkapkan, koperasi di desanya memiliki 294 anggota yang sebagian besar memproduksi emping kaceprek, gula aren, sale pisang, dan bakso ikan.
"Produksi gula aren dari bahan baku pohon aren juga kaceprek dipasok ke sejumlah daerah di Banten hingga mampu menggulirkan perputaran uang Rp400 juta per bulan jika dikalkulasikan Rp40 ribu per kg dari produksi 10 ton per bulan itu," kata Aep.
Ia mendorong agar koperasi terus tumbuh dan berkembang sehingga mampu menciptakan perekonomian baru bagi masyarakat pedesaan di Lebak.
Pemerintah Kabupaten Lebak berkomitmen mendorong seluruh KDMP yang belum beroperasi agar segera aktif. Dari total 344 koperasi yang direncanakan, baru 78 yang berjalan.
Imam Suangsa menambahkan, kehadiran koperasi ini dipastikan anggotanya sebagai pelaku UMKM dan produksinya bisa ditampung di kios sembako. "Produksi UMKM bisa memenuhi gerai koperasi, sehingga menggulirkan perputaran uang di desa itu," jelasnya.