Google Beri Kontrol Baru ke Penerbit Berita Inggris untuk Keluar dari Fitur AI di Pencarian

Penulis: Aditya Nugraha  •  Kamis, 04 Juni 2026 | 01:34:31 WIB
Google luncurkan tombol toggle untuk penerbit berita Inggris kendalikan penggunaan konten dalam fitur AI pencarian.

CMA secara resmi mengumumkan bahwa Google wajib menyediakan alat yang memungkinkan penerbit mencegah konten mereka digunakan untuk melatih atau menampilkan fitur AI dalam hasil pencarian. Kebijakan ini mulai berlaku efektif untuk semua penerbit berita di Inggris, dan akan dipantau langsung oleh regulator.

“Dalam sebuah terobosan global, penerbit kini memiliki alat efektif untuk mencegah konten mereka digunakan dalam fitur AI pencarian, seperti AI Overviews. Ini akan menempatkan penerbit pada posisi yang lebih kuat untuk menegosiasikan kesepakatan konten dengan Google,” demikian pernyataan resmi CMA, seperti dikutip dari rilis Kamis (17/4).

Alat Toggle Baru di Search Console, Bukan Ranking Signal

Untuk mematuhi aturan baru ini, Google akan menambahkan tombol toggle khusus di Google Search Console. Fitur ini memungkinkan pemilik situs web memilih apakah konten mereka boleh muncul di fitur AI pencarian atau tidak.

Google menegaskan bahwa pengaturan ini tidak akan mempengaruhi peringkat pencarian biasa. “Kontrol ini tidak akan digunakan sebagai sinyal peringkat untuk hasil pencarian di luar fitur AI Search generatif ini,” tulis perusahaan tersebut.

Tombol toggle ini akan mulai diluncurkan secara bertahap kepada sekelompok pemilik situs di Inggris. Google juga diwajibkan menerbitkan laporan kepatuhan secara berkala kepada CMA.

Google Membela Diri: AI Overviews Dipakai 2,5 Miliar Orang

Di sisi lain, Google membela fitur AI-nya dengan data yang cukup mencengangkan. Perusahaan mengklaim AI Overviews kini memiliki lebih dari 2,5 miliar pengguna aktif bulanan, sementara AI Mode baru saja menembus 1 miliar pengguna.

“Fitur seperti AI Overviews dan AI Mode dirancang untuk membantu orang menemukan dan mengunjungi situs web yang bagus, serta membantu penerbit memperkuat audiens mereka,” kata Google dalam pernyataan terpisah. Perusahaan juga bersikeras bahwa kepuasan pengguna terhadap pencarian meningkat berkat kehadiran AI.

Namun, argumen ini langsung diuji oleh kebijakan CMA. Regulator menilai bahwa dominasi Google di pasar pencarian digital menciptakan ketidakseimbangan kekuatan tawar-menawar dengan penerbit, terutama organisasi berita.

Dari Investigasi ke Kewajiban: Latar Belakang Regulasi

Langkah CMA ini bukan tiba-tiba. Pada Oktober 2024, setelah investigasi mendalam, regulator Inggris menetapkan bahwa Google memiliki 'strategic market status' (SMS) dalam penyediaan pencarian umum dan iklan pencarian di negara tersebut. Status ini memberi CMA wewenang untuk memberlakukan “conduct requirements” guna memperbaiki pasar digital dan melindungi persaingan.

Sarah Cardell, Chief Executive CMA, menyatakan bahwa pihaknya akan terus memantau perkembangan ini. “Kami juga akan terus menggunakan fleksibilitas unik dari rezim Inggris untuk memantau dan mengatasi kekhawatiran di masa depan, dan kami akan mengumumkan tindakan lebih lanjut terkait bisnis pencarian Google dalam beberapa minggu mendatang,” ujarnya.

Apa Artinya untuk Indonesia?

Bagi Indonesia, langkah CMA ini menjadi studi kasus penting. Pemerintah melalui Kominfo tengah menyusun aturan terkait platform digital dan tanggung jawab algoritmik. Jika regulator Inggris berhasil memaksa Google memberikan kontrol lebih ke penerbit, bukan tidak mungkin tekanan serupa akan muncul di Asia Tenggara.

Penerbit berita Indonesia selama ini bergantung pada traffic dari Google, namun kerap mengeluhkan kurangnya transparansi soal bagaimana konten mereka digunakan dalam fitur AI. Kebijakan Inggris ini bisa menjadi amunisi bagi mereka untuk menuntut hal serupa di dalam negeri.

Reporter: Aditya Nugraha
Sumber: thurrott.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top