CILEGON — Pemandangan tak biasa menyambut pengunjung yang melintasi Kampung Kubanglesung Kulon. Bendera negara-negara peserta Piala Dunia 2026 terpasang rapi di sepanjang jalan, dari Brasil, Argentina, Jerman, hingga Indonesia. Warga menyebut kawasan mereka kini sebagai "Kampung Piala Dunia".
Rohmani Wowoh, salah seorang warga setempat, mengungkapkan bahwa tradisi ini sudah berjalan selama bertahun-tahun. Setiap kali turnamen sepak bola terbesar digelar, warga kompak menyulap kampung mereka.
"Alhamdulillah, di Kubanglesung Kulon setiap ada Piala Dunia selalu disulap menjadi 'Kampung Piala Dunia' seperti sekarang. Selain pasang bendera, setiap malam kami juga mengadakan nonton bareng (nobar). Ini jadi cara efektif kami untuk menjaga silaturahmi antarwarga," ujar Rohmani, Senin (15/6/2026).
Euforia sepak bola di kampung ini tak berhenti pada hiasan bendera. Warga telah bergotong-royong menyiapkan layar proyektor dan sound system untuk menggelar nonton bareng selama turnamen berlangsung. Kegiatan ini diadakan setiap malam di lapangan kecil milik warga.
Rohmani menambahkan, aktivitas nobar menjadi ruang interaksi sosial yang sehat bagi semua kalangan. Anak-anak hingga orang tua duduk bersama menyaksikan pertandingan, ditemani camilan dan minuman yang disiapkan secara swadaya.
Bagi masyarakat Kubanglesung Kulon, Piala Dunia bukan sekadar ajang olahraga. Momen empat tahunan ini dimanfaatkan untuk memperkuat hubungan sosial di tengah kesibukan sehari-hari. Transformasi visual kampung menjadi penanda bahwa warga memilih merayakan demam bola dengan keterlibatan aktif seluruh lapisan.
Kini, kemeriahan itu telah melekat menjadi ciri khas Kampung Kubanglesung Kulon. Sebuah potret kecil dari Cilegon yang menunjukkan bahwa sepak bola mampu menjadi pemersatu warga lintas usia dan latar belakang.