Harga Mobil Listrik vs BBM di Indonesia 2026: Selisih Rp 75 Juta, Balik Modal Butuh 9 Tahun

Penulis: Chandra Kusuma  •  Senin, 29 Juni 2026 | 17:12:31 WIB
Perbandingan harga mobil listrik dan BBM menunjukkan selisih Rp 75 juta dengan waktu balik modal sekitar 9 tahun.

BANTEN — Industry.co.id merilis analisis komparatif antara mobil listrik dan konvensional berdasarkan data Kementerian ESDM, IEA Global EV Outlook 2025, serta pengalaman pemilik di Indonesia. Dengan asumsi penggunaan 15.000 km per tahun, total biaya kepemilikan mobil listrik masih sedikit lebih mahal dalam lima tahun pertama. Keunggulan baru terasa di tahun keempat jika harga BBM naik atau jarak tempuh harian lebih tinggi.

Biaya Per Kilometer dan Penghematan Bulanan

Tarif listrik rumah tangga Rp 1.444,70 per kWh membuat biaya operasional mobil listrik hanya Rp 200-400 per km. Sebagai perbandingan, mobil bensin dengan Pertalite Rp 10.000 per liter menghabiskan Rp 800-1.200 per km. Untuk pemakaian harian 40 km, penghematan bulanan mencapai Rp 720.000-960.000.

Konsumsi rata-rata mobil listrik berada di kisaran 15-20 kWh per 100 km. Sementara mobil BBM membutuhkan satu liter bensin untuk menempuh 10-12 km.

Harga Beli dan Waktu Balik Modal

Selisih harga masih menjadi hambatan utama. Wuling Air EV dibanderol Rp 243 juta, sementara Toyota Agya Rp 168 juta—beda 44 persen. Di segmen menengah, Hyundai Ioniq 5 Rp 749 juta versus Hyundai Tucson Rp 557 juta. Pemerintah memang memberikan PPnBM 0 persen sejak Maret 2023, plus keringanan PKB hingga 0 persen di beberapa daerah, namun gap harga tetap lebar.

Dengan penghematan bahan bakar Rp 8-10 juta per tahun, dibutuhkan 7-9 tahun untuk balik modal dari selisih harga beli. Angka itu belum memperhitungkan depresiasi baterai.

Depresiasi Baterai dan Biaya Perawatan

Baterai lithium-ion kehilangan 2-3 persen kapasitas per tahun. Setelah delapan tahun, kapasitas tersisa sekitar 75-80 persen. Garansi pabrikan rata-rata 8 tahun atau 160.000 km, namun penggantian di luar garansi bisa menelan Rp 80-150 juta tergantung tipe kendaraan.

Di sisi lain, biaya perawatan lebih rendah. Studi Consumer Reports 2024 mencatat biaya servis mobil listrik 40 persen lebih murah karena tidak ada penggantian oli, busi, filter bahan bakar, atau timing belt. Komponen yang tetap perlu dirawat: ban, rem (lebih awet berkat regenerative braking), cairan pendingin baterai, dan cabin air filter.

Infrastruktur Pengisian dan Waktu Charging

Kementerian ESDM mencatat baru 1.782 SPKLU per Mei 2026, timpang dibanding 5.500 lebih SPBU yang tersebar hingga kecamatan. Distribusi juga timpang—lebih dari 60 persen SPKLU terkonsentrasi di Jabodetabek, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Provinsi seperti Kalimantan Utara, Papua, dan NTT masih sangat minim.

Waktu pengisian jadi kendala lain. Pengisian AC 7 kW butuh 6-8 jam dari kosong ke penuh. Fast charging DC 50 kW memangkas waktu jadi 45-60 menit untuk 80 persen, tapi belum tersedia di semua SPKLU. Ultra-fast 150 kW baru ada di beberapa mal dan dealer resmi. Untuk perjalanan jarak jauh, waktu charging bisa menambah 1-2 jam perjalanan.

Emisi dan Proyeksi ke Depan

Meski komposisi energi listrik Indonesia masih 60 persen batu bara, emisi well-to-wheel mobil listrik tetap 50-70 persen lebih rendah dari mobil BBM. IEA memproyeksikan rasio ini akan membaik seiring target bauran energi baru terbarukan 23 persen pada 2025 dan 31 persen pada 2030.

PLN mencatat pertumbuhan SPKLU sebesar 45 persen dari 2024 ke 2025. Pemerintah menargetkan 5.000 SPKLU pada tahun ini. Namun, jarak tempuh rata-rata mobil listrik di Indonesia masih 200-400 km per pengisian penuh—angka real-world biasanya 15-20 persen lebih rendah tergantung kondisi jalan, AC, dan kecepatan.

Reporter: Chandra Kusuma
Sumber: industry.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top