BANTEN — Pencapaian Desabre bersama DR Congo di Piala Dunia 2026 sudah mengejutkan banyak pihak. Di fase grup, timnya menahan imbang Portugal 1-1, kalah tipis 1-0 dari Kolombia, lalu bangkit dengan kemenangan 3-1 atas Uzbekistan untuk memastikan tempat di babak 32 besar. Kini, mereka bersiap menghadapi Inggris di babak gugur.
Desabre, 49 tahun, bukan nama asing di sepak bola Afrika. Sebelum menangani DR Congo, ia pernah melatih klub-klub di Mesir dan Maroko. Pengalaman paling menonjol adalah saat menukangi Timnas Uganda. Hanya dalam satu tahun, ia membawa Uganda lolos ke Piala Afrika 2019—prestasi yang membuat timnya masuk nominasi Tim Nasional Terbaik versi CAF.
Di turnamen tersebut, Uganda finis kedua di grup di belakang Mesir, sebelum tersingkir di babak 16 besar oleh Senegal, yang akhirnya menjadi finalis. Setelah kontraknya berakhir secara sepihak pada 2019, Desabre vakum selama tiga tahun sebelum kembali dipercaya menangani DR Congo pada 2022.
Target Desabre jelas: membawa DR Congo ke Amerika Utara. Ia melewati rintangan berat di kualifikasi dengan kemenangan krusial atas Nigeria dan Kamerun. Puncaknya terjadi di play-off antar-konfederasi melawan Jamaika. Laga berjalan alot hingga 120 menit, sebelum gol di menit ke-100 memastikan kemenangan 1-0 dan tiket ke Piala Dunia.
Prestasi lain yang patus dicatat adalah pencapaiannya di Piala Afrika 2023. Saat itu, DR Congo melaju hingga semifinal, mengalahkan Mesir di babak 16 besar dan Guinea di perempat final, sebelum akhirnya takluk dari juara bertahan Pantai Gading.
Salah satu senjata utama Desabre di turnamen ini adalah Yoane Wissa. Penyerang milik Brentford itu telah mencetak tiga gol dalam tiga pertandingan fase grup. Ketajamannya menjadi kunci bagi DR Congo yang datang sebagai tim underdog namun bermain tanpa rasa takut.
Pertandingan melawan Inggris di babak 32 besar akan menjadi ujian terbesar bagi Desabre dan anak asuhnya. Namun, dengan rekam jejak yang sudah terbukti di Afrika dan kemampuan mencetak kejutan, DR Congo bukan tim yang bisa dianggap remeh.