Timnas Argentina Lolos ke Final Piala Dunia, Scaloni Sebut Pemainnya Tak Kenal Takut

Penulis: Dimas Prasetyo  •  Minggu, 19 Juli 2026 | 23:10:31 WIB
Pemain Argentina merayakan gol kemenangan di laga semifinal Piala Dunia yang memastikan tiket ke babak final.

BANTEN — Pelatih Argentina Lionel Scaloni menyebut skuadnya berisi para petarung yang bermain dengan kebebasan layaknya anak berusia 8-9 tahun. Menurutnya, tekanan justru tak membebani para pemain yang sejak kecil terbiasa bersaing di lingkungan penuh ekspektasi tinggi.

“Mereka tumbuh di lingkungan yang tidak takut pada apa pun, selalu menjadi yang terbaik dalam apa yang mereka lakukan. Sebagai anak-anak mereka sudah berkompetisi dan semua orang menaruh harapan besar pada mereka. Tanggung jawab tidak membebani mereka,” ujar Scaloni.

Tangisan Lautaro Martinez dan Kenangan Masa Kecil

Lautaro Martinez menjadi pahlawan Argentina lewat golnya yang memastikan tiket ke partai puncak. Namun di tengah euforia, pemain Inter Milan itu justru mengenang hal sederhana: sepatu pertama yang dibelikan ayahnya dan kebiasaan ibunya yang selalu merapikan tempat tidurnya setiap hari saat ia tinggal di asrama klub di kota lain sebagai remaja.

“Itu lebih berarti bagi saya daripada gol atau piala mana pun,” kata Martinez sambil terisak dalam wawancara di pinggir lapangan.

Filosofi Sepak Bola Argentina: Antara Seni dan Perlawanan

Argentina memandang sepak bola bukan sekadar olahraga, melainkan bentuk seni dan pelarian. Negara yang dikenal dengan julukan “tanah perjuangan antikolonial” ini memiliki ikatan emosional yang kuat dengan si kulit bundar. Anak-anak di lahan kosong bermain keepy-uppy dengan benda apa pun yang bisa ditemukan, menyempurnakan teknik di ruang sempit.

Daniel Passarella, kapten tim juara Piala Dunia 1978, pernah mengatakan bahwa sepak bola adalah satu-satunya bidang di mana Argentina bisa setara dengan negara-negara besar. “Kami bisa berjabat tangan dengan lawan mana pun, menatap mata mereka, dan tahu mereka melihat kami setara,” ujarnya.

Keragaman Argentina di Balik Seragam Timnas

Argentina adalah negeri yang sulit dikategorikan. Penduduknya terdiri dari keturunan pribumi Guarani, imigran Eropa Timur, komunitas Yahudi terbesar di luar Israel, hingga gelombang baru dari Rusia, Afrika, dan Venezuela. Di Qatar, skuad Albiceleste justru kerap dipandang sebagai tim paling tidak simpatik oleh publik luar negeri karena kedekatan federasi dengan FIFA dan fenomena Messi mania yang masif.

Namun bagi rakyat Argentina, kritik itu justru menjadi bahan bakar. Mereka akan berserah pada keajaiban Messi, membiarkan emosi mengalir setiap kali bola berputar. Di lapangan, para pemain tidak memikirkan konsekuensi kalah di semifinal. “Mereka hanya berpikir tentang bermain sepak bola, seperti yang mereka lakukan sepanjang hidup mereka,” tutup Scaloni.

Reporter: Dimas Prasetyo
Sumber: theguardian.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top