Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Tangerang, Banten, memperkuat kolaborasi dengan operator sekolah, kelurahan, dan kecamatan untuk memverifikasi data anak tidak sekolah (ATS) hingga tingkat nama dan alamat. Langkah ini diambil agar intervensi penanganan, termasuk program Home Visit dan pendidikan kesetaraan, tepat sasaran berdasarkan kondisi riil di lapangan.
TANGERANG — Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Tangerang, Banten, memperkuat kolaborasi dengan operator sekolah, kelurahan, dan kecamatan untuk memverifikasi data anak tidak sekolah (ATS) hingga tingkat nama dan alamat. Langkah ini diambil agar intervensi penanganan, termasuk program Home Visit dan pendidikan kesetaraan, tepat sasaran berdasarkan kondisi riil di lapangan.
Kepala Disdik Kota Tangerang, Wahyudi Iskandar, di Tangerang, Jumat, menyebutkan pembaruan data per Juni 2026 menunjukkan masih ada anak yang masuk kategori tidak sekolah. Data tersebut kini tengah melalui proses verifikasi dan validasi untuk menjadi dasar intervensi jangka pendek.
"Langkah ini dilakukan untuk memastikan kondisi anak di lapangan sekaligus memperbarui data secara lebih akurat," ujarnya.
Penanganan ATS tidak hanya menjadi tugas dinas pendidikan. Pemkot Tangerang menyiapkan tim penanganan lintas sektor yang melibatkan perangkat daerah dan unsur kewilayahan. Pendekatan ini dirancang untuk menyentuh faktor sosial, administrasi kependudukan, perlindungan anak, hingga kondisi ekonomi keluarga.
Dari sisi akses pendidikan, intervensi dilakukan melalui program Home Visit bersama perangkat kewilayahan. Petugas akan mendatangi langsung rumah anak untuk memberikan edukasi kepada keluarga sekaligus memahami kendala yang membuat anak putus sekolah.
Upaya pencegahan juga diarahkan pada anak yang berisiko tidak melanjutkan pendidikan dari jenjang SD ke SMP. Pemkot Tangerang mengoptimalkan program sekolah gratis, Tangerang Cerdas, serta pendidikan kesetaraan melalui PKBM dengan paket A, paket B, dan paket C.
Di sisi mutu pendidikan, pemerintah kota mendorong pembelajaran mendalam, pembiasaan positif melalui 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, serta penguatan sekolah ramah anak. Langkah tersebut diarahkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mampu meningkatkan keterikatan siswa dengan sekolah.
Pemkot Tangerang menyiapkan dashboard monitoring terpadu dengan memadankan data pendidikan, administrasi kependudukan, dan data kesejahteraan sosial. Integrasi data ini menjadi basis intervensi yang lebih tepat sasaran dan memudahkan evaluasi berkala.
"Penanganan ATS ini kita lakukan tidak bisa sendirian. Pemkot Tangerang akan terus melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan hak pendidikan dan mencegah munculnya kasus baru," ujarnya.