TANGSEL — PT Indah Kiat Pulp & Paper (IKPP) Tangerang Mill menggandeng produsen produk perawatan tubuh Be Cleanzy untuk memberdayakan Kelompok Wanita Tani (KWT) di Kota Tangerang Selatan. Para ibu KWT dibekali keterampilan mengolah sampah kulit buah menjadi eco enzyme yang nantinya akan dibeli dengan harga Rp30.000 per liter.
Pelatihan ini merupakan bagian dari program Komunitas Iklim (Proklim) yang digagas Kementerian Lingkungan Hidup bersama Dinas Lingkungan Hidup setempat. Targetnya, pengelolaan sampah domestik dari rumah tangga bisa lebih baik dan bernilai ekonomi.
Head of CSR PT Indah Kiat Tangerang, Lily Yulianingsih, menjelaskan bahwa eco enzyme yang diproduksi KWT tidak sekadar menjadi pupuk cair. Hasil fermentasi kulit buah itu akan menjadi bahan baku pembuatan detergen, sabun muka, hingga hand sanitizer milik Be Cleanzy.
"Mereka mengajak CSR Indah Kiat untuk bekerja sama membuat personal care. Tapi hari ini kita ngajarinnya eco enzyme-nya dari kulit buah," ujar Lily dalam keterangannya, Kamis (13/2/2025).
Produksi perdana para ibu KWT akan dievaluasi dalam tiga bulan ke depan. Jika hasilnya sesuai standar dan tidak berjamur, Be Cleanzy siap menampung dengan harga Rp30.000 per liter atau setara Rp30 per mililiter.
Ketua KWT Kota Tangerang Selatan, Agustin, mengapresiasi pelatihan ini karena memberikan pengetahuan baru bagi ibu-ibu di lingkungannya. Ia mencontohkan, pembuatan eco enzyme menggunakan perbandingan sederhana yang mudah dipraktikkan di dapur rumah tangga.
"Perbandingan 1:3:10 untuk pembuatan eco enzyme menjadi angka dasar yang bisa digunakan di rumah tangga masing-masing," jelas Agustin.
Dengan edukasi ini, diharapkan ibu-ibu KWT bisa menjadi agen perubahan di lingkungannya untuk mengurangi sampah dan penggunaan bahan kimia rumah tangga. "Terima kasih CSR PT Indah Kiat atas dukungannya untuk ibu-ibu KWT se-Kota Tangerang Selatan," tutupnya.
Ke depan, program pelatihan serupa akan diperluas jangkauannya. PT IKPP Tangerang berencana menggulirkan pelatihan ini ke bank sampah di seluruh wilayah Tangerang Selatan atas arahan Dinas Lingkungan Hidup.
"Arahan dari DLH sih coba undang lebih luas lagi untuk wilayah se-Tangsel. Nanti kita akan coba untuk gulirkan di bank sampah juga," ungkap Lily.
Langkah ini dinilai sebagai upaya one step ahead dalam pengelolaan sampah perkotaan, di mana limbah organik tidak hanya berhenti sebagai kompos, tetapi diolah menjadi produk bernilai jual tinggi yang masuk ke rantai industri manufaktur.