BANTEN — Kobaran api yang melanda kawasan TNBTS sejak akhir pekan lalu tidak hanya menghanguskan lahan kering, tetapi juga mengancam kelestarian flora endemik dan memaksa satwa liar untuk mengungsi. Area yang terdampak berada di wilayah Ayek-Ayek dan Pangonan Cilik, dua titik yang dikenal sebagai padang savana luas di dalam taman nasional.
Kepala Seksi PTN Wilayah III TNBTS, Agus Kusuma Negara, mengonfirmasi bahwa api telah melalap rumput malelo, vegetasi endemik yang menjadi ciri khas ekosistem Bromo. Tanaman ini merupakan sumber pakan utama bagi satwa herbivora di kawasan tersebut.
"Akibat kebakaran membuat rumput malelo terbakar. Selain itu, sejumlah satwa juga terganggu. Satwa yang terganggu dengan adanya kebakaran, bermigrasi ke hutan yang masih hijau," ujar Agus, Minggu (30/8/2026), dikutip dari detikJatim.
Dampak ekologis yang lebih luas juga dirasakan oleh fauna penghuni savana. Burung puyuh kehilangan tempat bersarang, sementara rusa dan macan kumbang terpaksa meninggalkan teritori aslinya. Kepulan asap pekat menjadi pemicu utama migrasi darurat hewan-hewan tersebut ke area hutan yang lebih lembap dan aman.
Tim gabungan yang terdiri dari petugas TNBTS, BPBD Kabupaten Lumajang, TNI, dan Polri masih berjibaku memadamkan api hingga saat ini. Kendala utama di lapangan adalah medan yang terjal dan sulit dijangkau, membuat mobil pemadam kebakaran tidak bisa beroperasi maksimal.
Untuk mempercepat proses pendinginan, helikopter water bombing dikerahkan menjangkau titik-titik api yang berada di lereng curam. Di sisi lain, petugas di darat membuat sekat api secara manual menggunakan peralatan seadanya untuk mencegah kobaran meluas ke kawasan hutan yang masih hijau.
Sebanyak 170 pendaki yang berada di Ranu Kumbolo telah dievakuasi ke tempat aman. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi risiko kesehatan akibat menghirup asap tebal serta potensi api yang semakin mendekati jalur pendakian.
Bagi traveler yang berencana berkunjung ke Bromo dalam waktu dekat, disarankan untuk memantau status terkini kawasan melalui akun resmi TNBTS atau menghubungi kantor balai taman nasional. Kondisi cuaca kering dan angin kencang membuat situasi di lapangan dapat berubah dengan cepat, sehingga keselamatan tetap menjadi prioritas utama sebelum menikmati keindahan matahari terbit di Penanjakan atau hamparan savana yang ikonik.