BANTEN — Jakarta masuk dalam wilayah yang rentan terhadap dampak gempa megathrust. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi guncangan kuat serta tsunami kecil yang bisa menjalar hingga ke ibu kota.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, memproyeksikan tsunami yang mencapai Jakarta memiliki ketinggian berbeda dengan wilayah Jawa Barat atau Banten. "Nanti tsunami-nya bisa sampai ke Jakarta, tapi tsunami-nya tidak setinggi di wilayah Jawa Barat atau Banten. Tingginya di Jakarta itu kita prediksi hanya sekitar 0,5 meter," jelasnya, Senin (24/8).
Potensi ini muncul jika terjadi pelepasan energi gempa dengan magnitudo maksimum di Selat Sunda. "Contohnya, nanti misalkan, gempa rilis dengan magnitude maksimum di daerah Selat Sunda, itu kan bisa potensi 8,9," ungkap Wijayanto.
Selain tsunami, Jakarta menghadapi risiko guncangan gempa dengan intensitas 6-7 MMI. Dampaknya dinilai lebih besar dibandingkan daerah lain karena ibu kota merupakan kawasan padat pemukiman dan pusat bisnis.
Wijayanto memperingatkan dua dampak utama yang dipicu megathrust. Pertama, tsunami yang terjadi ketika gempa berada di bawah laut dan memicu pergeseran dasar laut. Kedua, guncangan kuat yang dapat merusak infrastruktur, memicu tanah longsor hingga kebakaran di permukiman.
Posisi Jakarta yang berdekatan dengan zona sesar aktif menambah daftar risiko. Salah satunya adalah Sesar Cimandiri di Bogor. "Itu juga kalau kejadian [gempa berasal dari sesar aktif] nanti bisa berpotensi akan menimbulkan sedikit kerusakan juga mungkin di wilayah-wilayah di Jawa, khususnya nanti di Jakarta yang padat penduduk juga bisa berpotensi menimbulkan kerusakan dari sesar aktifnya," kata Wijayanto.
Untuk kawasan terdampak di luar Jawa, BMKG menyebut segmen Mentawai-Siberut sebagai salah satu zona rilis. "Kalau rilisnya di segmen Mentawai-Cibereut, tentunya nanti daerah Sumatera Barat, daerah Sumatera Utara, daerah Bengkulu itu akan terdampak, dan mungkin bisa juga nanti berdampak ke negara-negara sekitar Indian Ocean," jelasnya.
Menghadapi ancaman ini, BMKG menyatakan telah memiliki sistem peringatan dini tsunami yang berfungsi memberi informasi dan panduan evakuasi kepada masyarakat saat bencana terjadi. Sistem tersebut menjadi bagian dari kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa megathrust yang keberadaannya telah dipetakan di berbagai segmen dasar laut Indonesia.
Jakarta, dengan kepadatan penduduk dan bangunan bertingkat, menjadi perhatian utama dalam kajian risiko ini. Meski estimasi tsunami terbilang rendah, kerusakan akibat guncangan kuat tetap menjadi ancaman serius bagi infrastruktur kota.