TANGERANG — Manajemen Bandara Soekarno-Hatta mengaktifkan prosedur pemulihan layanan darurat menyusul perpanjangan penutupan operasional penerbangan. Sebanyak 301 penerbangan dipastikan batal berangkat dari terminal bandara, mencakup 233 rute domestik, 58 rute internasional, dan sepuluh penerbangan kargo.
Assistant Deputy Communication and Legal Bandara Soekarno-Hatta Yudistiawan menyatakan keputusan ini diambil setelah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau kembali meningkat. Sebelumnya, otoritas bandara sempat menutup operasional dan memperpanjang masa penghentian hingga pagi hari.
Untuk mengurai penumpukan calon penumpang di area terminal, pengelola menyiagakan delapan armada bus gratis. Setiap dua unit bus dialokasikan untuk melayani perjalanan ke Yogyakarta, Solo, Semarang, dan Surabaya.
“Selain itu, disiapkan bus gratis menuju Yogyakarta, Solo, Semarang dan Surabaya. Pada tahap awal, terdapat delapan bus yang disiapkan, masing-masing dua bus untuk setiap tujuan,” kata Yudistiawan kepada RRI.co.id, Senin dini hari.
Branch Communication and Legal Bandara Soekarno-Hatta Fahmi Harahap menyampaikan bahwa koordinasi penanganan penumpang yang tertahan terus dilakukan. Pihak pengelola bersama maskapai menyediakan makanan ringan serta membantu pengangkutan penumpang menuju hotel.
Akumulasi data dampak penyebaran abu vulkanik hingga Minggu malam pukul 21.30 WIB mencatat total 1.039 penerbangan terdampak. Angka tersebut merupakan akumulasi dari pembatalan, keterlambatan, hingga pengalihan pendaratan ke bandara lain.
Manajemen mengimbau para pengguna jasa layanan udara untuk memeriksa kembali status jadwal penerbangan melalui kanal resmi maskapai masing-masing sebelum melakukan perjalanan ke bandara.
“Kami mengimbau seluruh pengguna jasa bandara untuk mengecek kembali status dan jadwal penerbangan melalui kanal resmi maskapai sebelum melakukan perjalanan dan untuk informasi kebandarudaraan silakan menghubungi contact center InJourney Airports 172,” ujar Yudistiawan.
Pusat layanan kontak informasi dioperasikan penuh untuk menjawab pertanyaan teknis terkait jadwal keberangkatan armada. Situasi ini terjadi setelah peningkatan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang memicu sebaran abu vulkanik ke area sekitar bandara.