BANTEN — Lenovo merilis dua tablet sekaligus di segmen high-end: Yoga Tab Gen 2 versi 11,1 inci dan Yoga Tab Plus Gen 2 versi 13 inci. Keduanya membawa Android 17, layar resolusi 3840 x 2560 dengan refresh rate 144Hz, serta paket aksesori lengkap di dalam dus. Ini langkah serius Lenovo setelah sebelumnya lebih banyak bermain di tablet kelas menengah dengan harga agresif.
Yang menarik, Lenovo tidak mencoba menang di angka benchmark. Mereka menggeser definisi premium dari "paling kencang" menjadi "paling masuk akal" — setidaknya di atas kertas.
Varian tertinggi ini memakai layar 13 inci PureSight Pro dengan resolusi 3840 x 2560 dan refresh rate 144Hz. Ditenagai Qualcomm Snapdragon 8 Elite, dipadukan RAM 12GB LPDDR5X dan storage 256GB yang bisa diekspansi hingga 2TB.
Baterainya 12.700mAh dengan pengisian 68W. Ada enam speaker SLS Harman Kardon, konektivitas Wi-Fi 7, Bluetooth 6, dan USB-C. Bobotnya 605 gram — masih wajar untuk tablet 13 inci.
Satu catatan penting: Snapdragon 8 Elite di sini bukan varian Gen 5 seperti yang dipakai OnePlus Pad 4 atau Legion Tab Gen 5 8,8 inci. Artinya, tablet ini kuat, tapi belum tentu jadi pembunuh iPad Pro M5 dalam tenaga mentah.
Versi lebih kecil memakai MediaTek Dimensity 9500s dengan RAM 8GB. Layarnya tetap 3840 x 2560 dan 144Hz, storage 256GB, ekspansi hingga 2TB, dan baterai 11.000mAh dengan pengisian 68W.
Speaker-nya empat unit, bukan enam. RAM 8GB terasa cukup, bukan wah, untuk standar tablet premium akhir 2026. Tapi bodinya 6,2mm dengan bobot 480 gram membuatnya tampak elegan sebagai alternatif iPad Pro 11 dan Galaxy Tab S11.
Ini pembeda terbesar dari kompetitor. Yoga Tab Plus Gen 2 datang dengan Android 17 dan dijanjikan tujuh kali upgrade OS plus tujuh tahun patch keamanan. Jika ditepati, tablet ini berpotensi menerima fitur hingga Android 24.
Di ekosistem Android, komitmen sepanjang ini masih jarang. Efeknya bisa lebih besar daripada sekadar angka benchmark — terutama untuk pembeli yang ingin tablet tetap relevan lima hingga tujuh tahun ke depan.
Tapi di sinilah risiko terbesarnya. Janji tujuh upgrade OS adalah kontrak reputasi. Kalau ritme update lambat atau tidak konsisten, nilai jual utama itu bisa runtuh lebih cepat daripada baterai 12.700mAh habis.
Lenovo menambahkan sensor ToF di depan untuk mengenali gestur seperti "heart" dan "thumbs-up", lalu mengubahnya jadi emoji real-time. Di atas kertas terdengar futuristik, tapi manfaatnya untuk produktivitas harian masih sulit dibuktikan.
Di bagian belakang, ada komponen LED di dekat kamera yang tampak lebih kosmetik ketimbang fungsional. Ini memperlihatkan dilema klasik tablet Android: mengejar gimmick saat yang dicari pengguna premium justru konsistensi pengalaman dan ekosistem aplikasi.
Yoga Tab Gen 2 dipatok US$729,99 dan Yoga Tab Plus Gen 2 US$999,99 di situs resmi regional Lenovo. Paketnya sudah termasuk Lenovo Tab Pen Pro 2 dan keyboard.
Selisihnya signifikan. Untuk paket lengkap dengan aksesori, Lenovo menawarkan harga yang sulit diabaikan di kelas tablet premium.
Lenovo Yoga Tab Gen 2 dan Yoga Tab Plus Gen 2 menunjukkan Lenovo mulai bermain serius di kelas tablet Android premium. Layar 144Hz, baterai besar, Wi-Fi 7, plus paket stylus dan keyboard membuat value equation mereka sulit diabaikan — terutama jika dibandingkan iPad Pro M5 yang dijual tanpa aksesori.
Tablet ini cocok untuk pengguna yang butuh perangkat kerja-serius dengan aksesori lengkap sejak awal, dan yang percaya Lenovo akan menepati janji update panjangnya. Kurang cocok untuk yang mengejar performa mentah tertinggi atau yang sudah terikat ekosistem Apple dan aplikasi iPadOS spesifik.
Yang akan menentukan pemenang bukan hanya spesifikasi, melainkan konsistensi update Android 17 hingga generasi berikutnya, serta seberapa nyata manfaat fitur AI yang dipromosikan. Pertanyaan untuk pembeli bukan "tablet ini sekuat apa", melainkan "apakah ia tetap relevan dan terawat lima hingga tujuh tahun ke depan".