SERANG — Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan pasar terjadi setelah harga minyak dunia merosot cukup besar. Minyak mentah Brent turun 2,8 persen atau 2,94 dolar AS ke 102,35 dolar AS per barel, sementara WTI susut 3,8 persen atau 3,5 dolar AS menjadi 89 dolar AS per barel.
Penurunan harga minyak global meringankan beban impor energi Indonesia. Tekanan terhadap rupiah yang sempat mendekati Rp18.000 per dolar AS berangsur mereda seiring membaiknya pasokan energi dunia.
Analis dari Doo Financial, Lukman Leong, menyebut tren positif mata uang Garuda dipengaruhi suplai energi global yang mulai membaik. Ketegangan pasokan berangsur reda setelah Arab Saudi kembali mengalirkan setengah dari kapasitas ekspor minyak mentah melalui jalur pipa Timur-Barat.
Fasilitas tersebut sebelumnya sempat mengalami gangguan akibat serangan pesawat nirawak. Perbaikan sudah selesai dan operasional pipa kembali normal.
"Penguatan ini didukung oleh harga minyak dunia yang turun cukup besar oleh berita bahwa Arab Saudi melanjutkan kembali setengah dari ekspor minyak mentah melalui jalur pipa Timur-Barat," jelas Lukman Leong.
Kekhawatiran pasar turut mereda karena lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz dilaporkan kembali lancar tanpa hambatan berarti. Pasar komoditas merespons dengan koreksi harga yang signifikan.
Saat nilai tukar rupiah hampir menembus batas psikologis Rp18.000 per dolar AS, Bank Indonesia melakukan intervensi di pasar spot, Non-Deliverable Forward (NDF), hingga Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Langkah tersebut bertujuan mengamankan stabilitas kurs.
Kombinasi harga minyak yang lebih murah dan strategi pertahanan dari BI membuat laju dolar AS tertahan. Penguatan 56 poin pada pembukaan pasar menjadi sinyal awal perbaikan sentimen pasar keuangan domestik.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai tekanan pelemahan yang sempat menghantui rupiah mulai berkurang. Merosotnya harga minyak global meringankan sentimen negatif terhadap mata uang domestik.
"Hari ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp17.925–Rp18.025 per dolar AS," ungkap Josua.
Bagi pelaku usaha, investor, maupun masyarakat yang berencana bepergian ke luar negeri, pergerakan kurs ini layak terus dipantau. Fluktuasi harga minyak dan kebijakan bank sentral akan menjadi faktor utama yang menentukan arah rupiah dalam beberapa hari ke depan.