TANGERANG SELATAN — BPBD Kota Tangerang Selatan telah merampungkan pemetaan wilayah rawan kekeringan untuk musim kemarau tahun ini. Dari total luas wilayah kota, 16.485,47 hektare masuk dalam kategori bahaya kekeringan, dengan Kecamatan Setu sebagai zona paling rawan.
“Luas total yang terkena bahaya kekeringan yaitu 16.485,47 hektare,” ujar Sekretaris BPBD Kota Tangsel, Essa Nugraha Sudjana, Senin (13/7/2026).
Kecamatan Setu: Bahaya Kekeringan Kategori Sedang
Berdasarkan hasil pemetaan, Kecamatan Setu memiliki tingkat bahaya kekeringan kategori sedang. Essa merinci, luas wilayah dengan kategori bahaya rendah di kecamatan ini mencapai 1.246,23 hektare, sedangkan kategori sedang seluas 432,09 hektare.
Enam kecamatan lainnya di Kota Tangsel masih masuk kategori bahaya rendah. Penentuan itu didasarkan pada riwayat kejadian kekeringan dan intensitas curah hujan di masing-masing wilayah.
Kampung Koceak Mulai Alami Kekeringan Sejak Awal Juli
Musim kemarau tahun ini diprediksi lebih kering dibandingkan kondisi normal. BMKG mencatat Kota Tangsel telah memasuki musim kemarau sejak awal Juli, dan dampaknya sudah dirasakan warga.
Salah satu daerah langganan kekeringan adalah Kampung Koceak, RT 02/RW 01, Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu. Setiap tahun, warga di kampung ini kesulitan mendapatkan air bersih begitu kemarau tiba. Sejumlah sumur warga mulai mengering.
BPBD Salurkan 4.000 Liter Air Bersih ke Warga Terdampak
Menanggapi kondisi tersebut, BPBD Kota Tangsel telah mendistribusikan bantuan air bersih sebanyak 4.000 liter ke Kampung Koceak. Bantuan ini disalurkan untuk memenuhi kebutuhan harian warga.
“Awal bulan Juli ini Tangsel sudah masuk musim kemarau dan sudah ada wilayah yang terkena dampaknya,” kata Essa.
BPBD terus memantau perkembangan potensi kekeringan di seluruh wilayah kota. Jika dampak kemarau meluas, distribusi air bersih akan segera digerakkan ke kawasan lain yang membutuhkan.