TANGERANG — Program Makan Bergizi Gratis di Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang, terpaksa dihentikan sementara menyusul temuan pelanggaran standar operasional prosedur (SOP) pada distribusi menu Selasa (19/5/2026). Tim pengawas lapangan mendapati dokumentasi foto yang dikirim pengelola ke kantor pusat berbeda dengan menu riil yang diterima anak-anak.
Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa Kampung Melayu Timur, M. Jalaludin, mendesak pemerintah menghentikan program di wilayah tersebut. Ia menyebut ada pemotongan prosedur memasak yang membuat makanan tidak layak konsumsi.
"Kami meminta klarifikasi resmi terkait manipulasi menu MBG ini. Jika tidak ada konfirmasi mendalam, kami akan mendatangi Kantor MBG Pusat dan meneruskan laporan ini ke Kejaksaan Negeri Kabupaten Tangerang," ujar Jalaludin, Jumat (12/6/2026).
Menu Telur Dadar dan Inovasi yang Gagal
Salah satu temuan utama adalah penggunaan menu telur dadar yang tidak direkomendasikan Presiden karena rentan dimanipulasi dengan campuran tepung. Koordinator Lapangan MBG Teluknaga, Ade Rahman Hakim, menjelaskan pihak dapur awalnya mencoba berinovasi menyajikan menu "telur sate" seharga Rp 15.000 per porsi dengan campuran daging dan sayuran.
Menu tersebut membutuhkan empat tahapan proses: pengukusan, pemotongan, penusukan, hingga penggorengan. Karena kejar tayang dan keterbatasan waktu, koki dapur memotong tahapan baku tersebut.
"Akibatnya, hasil akhir makanan tidak sesuai dengan standar gizi dan prosedur yang telah ditetapkan. Koki dapur juga meracik sendiri saus tambahan menggunakan produk komersial yang tidak sesuai instruksi awal," jelas Ade.
Dapur Umum Overload, Kapasitas Hanya 2.500 Porsi
Faktor utama kegagalan prosedur ini dipicu oleh beban kerja dapur yang melebihi kapasitas. Saat ini, total sasaran penerima manfaat di Teluknaga mencapai 3.446 anak. Sementara kapasitas efektif dapur umum idealnya hanya 2.500 porsi per hari, namun dipaksakan memasak lebih dari 3.000 porsi.
Pengelolaan program MBG di wilayah ini dipegang oleh Yayasan Bahari Indonesia Emas yang ditunjuk langsung pemerintah pusat. Saat ini telah beroperasi 13 dapur umum, dan 15 dapur tambahan sedang dibangun untuk memperluas volume produksi.
Anggaran Per Porsi: Rp 13.000 dan Rp 15.000
Ade merinci alokasi dana per porsi yang dibagi menjadi dua kategori. Paket Rp 13.000 untuk balita, TK, PAUD, hingga SD kelas 3 dengan rincian Rp 8.000 bahan baku, Rp 2.000 sewa fasilitas, dan Rp 3.000 biaya operasional. Paket Rp 15.000 untuk siswa SD kelas 4 hingga SMA serta ibu hamil dengan alokasi Rp 10.000 bahan baku, Rp 2.000 sewa fasilitas, dan Rp 3.000 biaya operasional.
Fungsi pengawasan gizi juga disorot. Ahli gizi dari Puskesmas Teluknaga yang ditugaskan dilaporkan sangat jarang meninjau proses produksi di lapangan. Warga dan penerima manfaat mendesak evaluasi total agar distribusi berjalan transparan dan sesuai mutu yang dijanjikan.