BANTEN — Pertamina Drilling resmi mengembangkan lini bisnis baru di sektor hulu migas, yakni layanan High-Pressure Pumping Non-Rig Services. Langkah ini ditandai dengan suksesnya operasi perdana matrix acidizing pada sumur GNK-104 di Lapangan Prabumulih, Sumatera Selatan.
Sumur Tua, Teknologi Baru
Matrix acidizing adalah teknik injeksi asam kimia ke dalam formasi batuan di sekitar lubang bor. Tujuannya, melarutkan kerak atau endapan mineral yang menyumbat pori-pori batuan, sehingga minyak dan gas bisa mengalir kembali ke permukaan.
Teknologi ini biasanya diterapkan pada sumur-sumur yang sudah berproduksi lama dan mulai alami penurunan laju alir. Alih-alih mengebor sumur baru yang biayanya mahal, matrix acidizing menawarkan solusi yang lebih efisien untuk mengangkat kembali potensi sumur eksisting.
Perkuat Bisnis Non-Rig
Operasi perdana ini menjadi sinyal keseriusan Pertamina Drilling untuk merambah jasa non-rig yang selama ini didominasi oleh kontraktor asing. Perusahaan tidak hanya ingin menjadi penyedia jasa pengeboran, tetapi juga mitra solusi untuk seluruh siklus produksi migas.
“Ini adalah langkah strategis kami untuk memperkuat posisi di industri hulu migas nasional. Ke depan, kami akan terus mengembangkan kapabilitas di segmen high-pressure pumping,” ujar manajemen Pertamina Drilling dalam keterangan resmi.
Dampak ke Produksi Nasional
Keberhasilan di Prabumulih membuka peluang replikasi di lapangan-lapangan tua lainnya milik Pertamina Hulu Rokan, Pertamina EP, dan anak usaha lainnya. Dengan potensi ratusan sumur tua yang tersebar di seluruh Indonesia, teknologi ini bisa menjadi kunci untuk menahan laju penurunan produksi minyak nasional.
Pemerintah sendiri tengah gencar mendorong optimalisasi sumur-sumur eksisting sebagai bagian dari upaya mencapai target produksi 1 juta barel minyak per hari. Inovasi seperti matrix acidizing menjadi salah satu jawaban untuk mencapai target tersebut tanpa harus bergantung penuh pada penemuan cadangan baru.