PANDEGLANG — Tujuh kecamatan di Kabupaten Pandeglang, Banten, saat ini dilanda krisis air bersih. Musim kemarau yang berkepanjangan membuat sejumlah sumber air, seperti sumur dan mata air, mulai mengering. Warga pun kesulitan memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Wilayah Terparah: Sindangresmi dan Angsana
Dari tujuh kecamatan yang terdampak, BPBD-PK Pandeglang menyebut Kecamatan Sindangresmi dan Angsana sebagai wilayah dengan kondisi kekeringan paling berat. Keduanya berada di Pandeglang bagian selatan.
"Yang paling parah itu Kecamatan Sindangresmi dan Angsana di wilayah Pandeglang bagian selatan," ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD-PK Pandeglang, Lilis Sulistiyati, Minggu (19/7/2026).
Di dua kecamatan ini, debit air dari sumber alami mengalami penurunan signifikan. Sebagian sumur dan mata air bahkan sudah benar-benar kering, memaksa warga bergantung penuh pada bantuan pemerintah.
Tiga Armada Tangki Dikerahkan untuk Distribusi
Untuk menjangkau seluruh wilayah yang mengajukan bantuan, BPBD-PK Pandeglang mengerahkan tiga mobil tangki. Distribusi air bersih dilakukan secara bertahap, mempertimbangkan tingkat kebutuhan dan permintaan dari masing-masing desa.
"Bantuan yang sudah kami distribusikan mencapai 91.000 liter air bersih untuk masyarakat terdampak kekeringan," kata Lilis.
Ketujuh kecamatan yang terdampak krisis ini meliputi Cadasari, Karangtanjung, Sindangresmi, Angsana, Patia, Cikeusik, dan Picung.
Potensi Wilayah Terdampak Bertambah
BPBD-PK Pandeglang memantau perkembangan situasi di lapangan. Jika musim kemarau berlangsung lebih lama, jumlah desa yang mengalami krisis air bersih berpotensi bertambah.
Pemerintah daerah menyatakan siap menambah bantuan jika diperlukan. "Distribusi air bersih akan terus dilakukan berdasarkan permohonan dari pemerintah desa dan kecamatan dengan memprioritaskan wilayah yang mengalami krisis paling berat," pungkas Lilis.