Pencarian

Pemkab Lebak Genjot Populasi Kerbau Lewat Inseminasi Buatan, Peternak Raup Omzet Rp150 Juta per Tahun

Minggu, 26 Juli 2026 • 11:26:32 WIB
Pemkab Lebak Genjot Populasi Kerbau Lewat Inseminasi Buatan, Peternak Raup Omzet Rp150 Juta per Tahun

LEBAK — Potensi ekonomi peternakan kerbau di Kabupaten Lebak terus didorong melalui penerapan teknologi reproduksi modern. Kepala Bidang Bina Usaha dan Kelembagaan Peternakan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan setempat, Rieyan Dermawan, menyatakan bahwa inseminasi buatan menjadi kunci utama dalam program pengembangan ternak kerbau di wilayah tersebut.

Prospek Ekonomi Kerbau Lumpur

Kerbau yang dipelihara masyarakat Lebak merupakan jenis kerbau lumpur dengan bobot dewasa mencapai 500–700 kilogram. Harga per ekor di tingkat peternak bervariasi, mulai Rp20 juta hingga Rp30 juta tergantung ukuran dan kualitas ternak. Nilai jual yang cukup tinggi ini menjadikan usaha ternak kerbau sebagai sumber pendapatan utama bagi keluarga di pedesaan.

"Ke depan dikembangkan teknik budidaya yang lebih baik agar populasi kerbau terus meningkat melalui kelahiran anakan sehingga mendukung upaya swasembada daging kerbau," kata Rieyan di Lebak, Sabtu.

Inseminasi Buatan untuk Percepat Populasi

Teknologi inseminasi buatan dinilai mampu mempercepat pertumbuhan populasi kerbau secara signifikan. Sebagian besar peternak di Lebak masih menerapkan pola pemeliharaan tradisional, sehingga modernisasi budidaya menjadi langkah strategis. Pemerintah daerah juga memproyeksikan populasi kerbau akan terus bertambah seiring dengan optimalisasi teknik reproduksi tersebut.

Modal Alami dari Perkebunan Sawit

Keberadaan kawasan perkebunan kelapa sawit di Rangkasbitung dan Solear memberikan keuntungan tersendiri bagi peternak. Hamparan rumput di bawah tegakan sawit menyediakan pakan alami yang melimpah, sehingga biaya pemeliharaan relatif lebih efisien. Setiap hari, ratusan ekor kerbau digembalakan di area perkebunan tanpa perlu biaya pakan tambahan yang besar.

Kisah Dua Peternak Sukses

Asep (50), peternak yang beroperasi di kawasan perkebunan kelapa sawit Rangkasbitung, telah menjalankan usaha ini selama sekitar dua dekade. Ia mengelola 45 ekor kerbau dan setiap tahun menjual rata-rata lima ekor dengan nilai penjualan mencapai Rp150 juta. Hasil tersebut ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, membangun rumah, hingga membiayai pendidikan dua anaknya hingga perguruan tinggi.

Hal serupa dialami Jamawi (60), peternak asal Solear, Kecamatan Maja. Ia memelihara 35 ekor kerbau dan mengaku usaha ini memberikan kepastian pendapatan. Setiap tahun ia menjual lima ekor senilai sekitar Rp150 juta. "Usaha ternak kerbau masih menjadi usaha yang memberikan kepastian pendapatan bagi masyarakat pedesaan," ujarnya.

Dengan penguatan teknologi budidaya, peningkatan populasi melalui inseminasi buatan, serta pemanfaatan sumber daya pakan lokal, sektor peternakan kerbau di Kabupaten Lebak diharapkan semakin berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi pedesaan dan ketahanan pangan nasional.

Bagikan
Sumber: banten.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks