Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten memastikan pertumbuhan ekonomi 5,49 persen pada Triwulan II 2026 tidak hanya menjadi angka statistik, melainkan harus berdampak nyata pada perluasan lapangan kerja dan kesejahteraan warga. Gubernur Banten Andra Soni menegaskan capaian tersebut menjadi modal optimisme yang harus diterjemahkan ke dalam ekosistem kebijakan yang inklusif.
SERANG — Pertumbuhan ekonomi Banten yang konsisten di atas rata-rata nasional kini dihadapkan pada satu pekerjaan rumah besar: memastikan dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat. Gubernur Banten Andra Soni menegaskan bahwa pemerintah tidak sekadar mengejar kenaikan angka di atas kertas, melainkan harus diwujudkan menjadi kebijakan yang menyentuh seluruh lapisan warga.
“Capaian ini menjadi modal optimisme yang harus kita jaga. Seluruhnya harus bergerak dalam satu ekosistem ekonomi Banten. Tujuan akhirnya adalah kesejahteraan masyarakat Banten,” tegas Andra Soni di Serang, Jumat.
Optimisme tersebut bukan tanpa dasar. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju pertumbuhan ekonomi Banten terus menanjak dalam tiga tahun terakhir, dari 4,79 persen pada 2024, naik ke 5,37 persen pada 2025, dan kini menembus 5,49 persen pada pertengahan 2026. Angka ini menempatkan Banten di atas laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Investasi Rp 130,2 Triliun dan Serapan 214 Ribu Tenaga Kerja
Salah satu motor penggerak utama adalah investasi. Sepanjang 2025, realisasi penanaman modal di Banten sukses menembus Rp 130,2 triliun, melampaui target yang dipasang di angka Rp 119,5 triliun. Capaian ini mengukuhkan posisi Banten sebagai destinasi investasi keempat terbesar secara nasional.
Dampaknya terhadap pasar tenaga kerja pun signifikan. Dari derasnya arus modal yang masuk, tercatat 214 ribu tenaga kerja berhasil diserap. Angka ini menjadi bukti bahwa investasi tidak hanya berhenti di atas kertas, tetapi berjalan seiring dengan penciptaan lapangan kerja baru bagi warga Banten.
Sektor Penyokong Tumbuh Pesat: Pertanian Hingga Transportasi
Pemprov Banten tidak hanya bertumpu pada investasi. Beberapa sektor penyokong utama ekonomi daerah juga mencatatkan pertumbuhan yang impresif. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh hingga 17,88 persen, menjadi penopang utama ketahanan pangan daerah.
Di sisi lain, sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 13,84 persen, seiring dengan meningkatnya aktivitas logistik di jalur strategis Banten. Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum juga menguat 15,29 persen, mengindikasikan geliat pariwisata dan aktivitas ekonomi masyarakat yang semakin pulih.
Sinergi untuk Kendalikan Inflasi dan Digitalisasi UMKM
Langkah strategis selanjutnya adalah memastikan seluruh pemangku kepentingan bergerak seirama. Pemprov Banten mendorong sinergi untuk menerjemahkan data dan kajian ekonomi menjadi kebijakan konkret di lapangan. Fokusnya mencakup pengendalian inflasi, penguatan ketahanan pangan, hingga pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Digitalisasi transaksi juga menjadi perhatian serius. Dengan memperluas ekosistem pembayaran digital, diharapkan UMKM lokal dapat naik kelas dan menjangkau pasar yang lebih luas, seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang sedang berlangsung.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten, Sofwan Kurnia, mengonfirmasi bahwa fundamental ekonomi Banten saat ini sangat solid. Menurutnya, tingkat inflasi di Banten terkendali, pertumbuhan ekonomi berada di atas rata-rata nasional, dan prospek investasi ke depan masih cerah.