Pencarian

Pertamina Targetkan Seluruh SPBU Salurkan Biosolar B50 Akhir September 2026

Sabtu, 12 September 2026 • 08:07:31 WIB
Pertamina Targetkan Seluruh SPBU Salurkan Biosolar B50 Akhir September 2026
Pertamina menargetkan seluruh SPBU menyalurkan Biosolar B50 pada akhir September 2026.

BANTEN — Direktur Pemasaran Ritel PT Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto menyatakan sebagian besar terminal BBM telah menyediakan stok B50. Penyaluran di tingkat SPBU tercatat sudah mencapai 95 persen per Jumat (11/9).

Biosolar B50 merupakan bahan bakar campuran 50 persen biodiesel atau Fatty Acid Methyl Ester (FAME) berbasis kelapa sawit dengan 50 persen solar fosil. Rasio ini naik dari B40 yang saat ini masih beredar di sejumlah wilayah.

Maluku dan Papua Masih Habiskan Stok B40

Wilayah yang belum sepenuhnya menyalurkan B50 berada dalam fase transisi. Maluku dan Papua masih harus menghabiskan sisa stok Biosolar B40 yang persediaannya cukup tinggi.

"Diharapkan akhir September kita sudah masuk ke B50 semuanya," ujar Eko dalam acara Pertamax Journey di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Jumat (11/9).

Pernyataan itu menegaskan target perusahaan untuk menuntaskan konversi dari B40 ke B50 dalam hitungan pekan. Setelah seluruh SPBU beralih, tidak ada lagi penyaluran Biosolar dengan campuran biodiesel 40 persen.

Pertamax Green 95 Sudah Menjangkau Enam Wilayah Jawa

Di sisi bensin, Pertamina memperluas penetrasi BBM gasoline yang dicampur bioetanol melalui Pertamax Green 95. Dalam tiga tahun terakhir, distribusinya mencakup Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat, hingga sebagian wilayah Jakarta.

Perluasan ini menandai keseriusan Pertamina menggarap segmen bahan bakar nabati untuk kendaraan bensin, bukan hanya diesel. Produk Pertamax Green 95 menjadi kanal uji pasar sebelum kebijakan wajib etanol diterapkan lebih luas.

Pemerintah Godok Regulasi Etanol, Target 1-2 Tahun

Eko menyebut pemerintah tengah mematangkan regulasi untuk memperluas kewajiban penggunaan etanol. Harapannya, seluruh produk bensin yang beredar di pasaran dapat dicampur bahan bakar nabati secara bertahap.

"Rencananya juga saat ini pemerintah sedang menggodok kebijakannya dan insyaallah mungkin dalam 1-2 tahun ke depan semua produk gasolin akan berbasis etanol," ujar Eko.

Untuk memuluskan rencana tersebut, Pertamina bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta lembaga terkait tengah mengajukan permohonan insentif berupa pembebasan cukai untuk etanol.

Insentif Cukai Jadi Kunci Kelayakan Ekonomi Etanol

Permohonan pembebasan cukai etanol menunjukkan biaya produksi bahan bakar nabati masih menjadi pertimbangan utama. Tanpa insentif fiskal, harga jual bensin berbasis etanol berpotensi lebih mahal dibanding bensin fosil.

Bagi pelaku usaha di sektor energi dan perkebunan sawit, kepastian regulasi etanol akan menentukan arah investasi di rantai pasok bahan bakar nabati. Kebijakan ini juga bersinggungan dengan target bauran energi terbarukan pemerintah.

Investasi mengandung risiko.

Follow bantenklik.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks