BANTEN — Danantara memutuskan mendahulukan merger empat BUMN Karya — PT PP, Adhi Karya, Brantas Abipraya, dan Nindya Karya — sebelum menangani restrukturisasi Wijaya Karya dan Waskita Karya. Keputusan ini diambil karena merger keempat perusahaan dinilai paling mudah dieksekusi, sementara WIKA dan Waskita butuh penanganan lebih kompleks. Langkah ini menjadi bagian dari penataan besar BUMN yang ditargetkan menyisakan 200 perusahaan saja pada akhir tahun.
Paragraf pembuka: Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menyatakan proses merger PT PP Tbk (PTPP), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT Brantas Abipraya, dan PT Nindya Karya akan diselesaikan lebih dulu. Keputusan itu diambil seusai acara Executive Breakfast Meeting oleh IKA Fikom Unpad di Jakarta. Menurut Dony, keempat perusahaan tersebut merupakan yang paling siap untuk digabungkan.
Empat Perusahaan Paling Siap Digabung
Dony menyebut keempat BUMN Karya itu sebagai kandidat merger yang paling mudah dieksekusi. "Bahwa merger PTPP, Adhi Karya, kemudian Brantas Abipraya dan Nindya Karya, ini akan kita selesaikan. Ini yang paling mudah untuk dilakukan mergernya," ujarnya.
Setelah merger keempat perusahaan rampung, Danantara baru akan mengalihkan fokus ke dua perusahaan yang memerlukan langkah restrukturisasi lebih rumit. Dony menegaskan bahwa WIKA dan Waskita memang membutuhkan perhatian ekstra karena kondisi keuangannya tidak sebaik perusahaan BUMN Karya lainnya.
WIKA dan Waskita Jadi Prioritas Restrukturisasi
Dony menjelaskan, restrukturisasi Wijaya Karya dan Waskita Karya mencakup sejumlah langkah, termasuk optimalisasi atau investasi aset serta penurunan beban utang. Kedua perusahaan itu dinilai memerlukan penanganan khusus sebelum bisa masuk ke tahap merger.
"Terutama sekali WIKA dan Waskita. Kalau yang PT Hutama Karya, mereka relatively sehat. Jadi hanya WIKA, Waskita yang akan menjadi persoalan," ujar Dony.
Artinya, dari sekian BUMN Karya yang ada, hanya dua perusahaan itu yang saat ini dianggap bermasalah secara finansial. Hutama Karya justru dinilai relatif sehat sehingga tidak memerlukan perlakuan serupa.
Empat Skema Penataan BUMN
Danantara tengah menjalankan penataan terhadap perusahaan-perusahaan BUMN melalui empat skema. Pertama, penutupan atau likuidasi. Kedua, divestasi. Ketiga, konsolidasi. Keempat, restrukturisasi.
Untuk perusahaan yang masuk skema restrukturisasi, Dony menyebut langkah yang bisa diambil berupa penambahan ekuitas, injeksi aset, maupun restrukturisasi pinjaman. Skema ini disesuaikan dengan kondisi masing-masing perusahaan.
Dony juga mengungkapkan bahwa Danantara sedang melakukan konsolidasi terhadap perusahaan BUMN di sektor asuransi. Sektor konstruksi dan asuransi menjadi dua bidang yang paling dulu ditata.
Target Akhir Tahun: 200 Perusahaan
Penataan menyeluruh ini mengacu pada arahan Presiden Prabowo Subianto. Dony menyebut targetnya adalah menyisakan sekitar 200 perusahaan saja yang dikelola Danantara pada akhir tahun.
"Ini sudah selesai kita tentukan, sehingga harapannya yang selalu disampaikan oleh Bapak Presiden (Prabowo Subianto), kita harapkan akhir tahun ini tinggal hanya 200 perusahaan saja yang kita kelola," ujarnya.
Penutup: Langkah Danantara mendahulukan merger empat BUMN Karya menandai babak baru konsolidasi perusahaan pelat merah di sektor konstruksi. Bagi pelaku pasar, kepastian urutan merger dan restrukturisasi ini menjadi sinyal penting soal arah penataan BUMN ke depan.