BANTEN — Streamer China Fanqie Jiang Ye viral setelah penonton bisa membayar 50 yuan (sekitar Rp 115 ribu) untuk memutar kursi yang ia duduki hingga tubuhnya terjungkal. Mekanisme pasti integrasi pembayaran dengan perangkat mekanis tersebut belum terverifikasi secara independen. Fenomena ini memicu perdebatan soal batas etika kontrol penonton atas tubuh kreator di ruang digital.
Praktik livestreaming di China kembali memunculkan pertanyaan soal sejauh mana penonton boleh mengontrol kreator yang mereka tonton. Fanqie Jiang Ye, seorang streamer, dilaporkan membuka akses bagi penonton untuk mengirimkan gift senilai 50 yuan (sekitar USD 7,50 atau Rp 115 ribu) yang memicu kursi yang ia duduki berputar otomatis hingga posisinya terbalik.
Cuplikan video yang beredar memperlihatkan penonton mengirim uang secara berulang demi menjaga kursi tetap berputar. Model interaksi ini mengubah livestreaming dari tontonan pasif menjadi kendali langsung penonton atas tindakan fisik kreator.
Mekanisme Teknis yang Belum Terverifikasi
Hingga kini belum ada verifikasi independen mengenai bagaimana sistem pembayaran terhubung dengan perangkat pemutar kursi. Sejumlah pertanyaan teknis masih terbuka, mulai dari jenis peralatan mekanis yang dipakai hingga aplikasi interaktif yang menerima transaksi gift.
Aspek lain yang belum jelas adalah penanganan antrean. Setiap transaksi disebut memicu satu kali putaran penuh, tetapi tidak diketahui bagaimana sistem mengelola pembayaran yang masuk dalam waktu berdekatan saat kursi masih berputar.
Fitur penghentian darurat juga belum dipastikan ada. Belum diketahui apakah Jiang Ye memiliki tombol jeda untuk menghentikan putaran jika ia merasa pusing atau tidak nyaman di tengah siaran.
Respons Netizen: Perbandingan dengan Black Mirror
Gelombang tanggapan muncul di platform X dan media sosial lokal China. Banyak netizen mengaitkan fenomena ini dengan nuansa distopia serial fiksi ilmiah Black Mirror, khususnya episode "Common People" pada Musim ke-7.
Episode tersebut menceritakan pasangan suami istri Amanda dan Mike yang bergantung pada teknologi berlangganan untuk bertahan hidup. Ketika biaya langganan membengkak, sang suami rela menyakiti dan mempermalukan dirinya sendiri secara live demi mendapatkan uang dari penonton yang membayar.
Kasus Jiang Ye jauh lebih ringan dibanding skenario ekstrem fiksi tersebut. Meski begitu, perdebatan soal batas etika tetap mengemuka: sejauh mana pembayaran penonton berhak mendikte tubuh seorang streamer di ruang digital?
Kekhawatiran Kesehatan dan Biaya Perangkat
Sebagian netizen menyoroti risiko kesehatan dari aksi jungkir balik yang dilakukan berulang. Ada pula yang mempertanyakan sisi ekonomi, karena pendapatan dari gift dinilai tidak cukup menutup biaya mesin pemutar kursi yang disebut membutuhkan modal minimal ribuan dolar.
Hingga aturan main dan mekanisme pasti livestream tersebut terverifikasi, publik masih mempertanyakan apakah aksi ini murni pertunjukan seni interaktif yang disepakati kedua pihak, atau bentuk eksploitasi yang melampaui batas kenyamanan sang streamer.
Kasus ini menyusul pemberitaan detikINET yang mengutip Techspot, dan menjadi contoh terbaru bagaimana ekonomi gift di platform livestreaming terus mendorong kreator mencari format interaksi yang makin ekstrem demi menarik transaksi penonton.