LEBAK — Lonjakan harga gabah di tingkat petani ini terjadi saat musim kemarau menyebabkan produksi panen Agustus dipastikan menurun dibandingkan periode Januari-Maret. Kondisi ini membuat harga jual di pasaran merangkak naik, dan petani yang memiliki akses air justru diuntungkan.
Gapoktan Sukabungah Kabupaten Lebak menampung gabah dari petani dengan harga Rp8.000 per kg. Setelah diproses menjadi beras, produk tersebut dijual dengan harga eceran tertinggi (HET) Rp13.500 per kg dan dipasok ke sejumlah pasar tradisional di wilayah Banten serta dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Ruhiana merinci, dengan produktivitas rata-rata 5 ton GKP per hektare, petani biasanya menjual sebanyak 4 ton. Dari penjualan tersebut, pendapatan kotor yang diraup mencapai Rp32 juta per hektare.
"Kami memastikan pendapatan Rp32 juta itu petani bisa meraup keuntungan bersih Rp22 juta setelah dipotong biaya pengelolaan Rp10 juta," kata Ruhiana di Lebak, Selasa.
Kenaikan harga ini bukan tanpa sebab. Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Dodi Hermawan, menyebut harga gabah menembus Rp8.000 per kg karena musim panen relatif menurun akibat kemarau panjang yang melanda.
"Kita memastikan panen Agustus 2026 di bawah 10 ribu hektare dan menurun dibandingkan Juli seluas 18 ribu hektare," jelas Dodi.
Penurunan luas panen ini membuat sebagian besar areal persawahan di wilayah Banten mengalami kekeringan. Para petani yang tidak memiliki sumber air terpaksa menganggur, sementara mereka yang lahannya masih produktif mendapatkan berkah harga tinggi.
Imas (50), seorang tengkulak di Kecamatan Cibadak, mengaku menampung gabah di tingkat petani dengan harga Rp8.000 per kg. Ia menyesuaikan dengan harga pasaran yang sedang berlangsung.
"Sekarang banyak areal persawahan di wilayah Banten kekeringan akibat kemarau itu," kata Imas. Saat ini, ia menampung gabah sebanyak 2 ton dari para petani di sekitarnya.
Sebagian besar hasil panen di wilayah kerja Gapoktan Sukabungah ditampung untuk diproduksi menjadi beras. Produksi beras tersebut kemudian disalurkan ke pasar tradisional dan memenuhi kebutuhan dapur SPPG, memastikan pasokan pangan di Banten tetap berjalan di tengah tantangan musim kemarau.