BANTEN — Kampung Adat Sade selama ini dikenal sebagai ruang hidup masyarakat Sasak yang mempertahankan tradisi, arsitektur, kerajinan, dan tata kehidupan secara turun-temurun. Keunikan inilah yang menjadikannya salah satu ikon wisata budaya unggulan di Lombok, selain pantai-pantai di pesisir selatan yang berjarak sekitar 30 menit berkendara dari kawasan ini.
Menteri Pariwisata menegaskan langkah pertama yang dilakukan adalah memastikan warga dalam kondisi aman dan kebutuhan dasar segera terpenuhi. "Yang paling penting saat ini adalah memastikan warga dalam kondisi aman dan kebutuhan dasar masyarakat dapat segera terpenuhi," ungkap Widiyanti Putri Wardhana, Minggu (23/8).
Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Lombok telah diinstruksikan untuk turun ke lapangan, termasuk menyiapkan dapur umum guna mendukung kebutuhan konsumsi masyarakat terdampak. Pelaksanaannya menunggu arahan Forkopimda Kabupaten Lombok Tengah agar bantuan tepat sasaran dan tidak tumpang tindih dengan penanganan yang sudah berjalan.
Setelah tahap darurat selesai, Kementerian Pariwisata siap berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan kementerian/lembaga terkait untuk merekonstruksi Kampung Adat Sade. Proses pembangunan kembali ini akan menempatkan masyarakat adat sebagai bagian utama, dengan tetap memperhatikan nilai budaya, kearifan lokal, dan autentisitas arsitektur tradisional Sasak.
"Kita ingin Sade bangkit kembali tanpa kehilangan jati dirinya sebagai ruang hidup dan warisan budaya masyarakat Sasak," kata Menpar Widiyanti. Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah dan masyarakat adat Desa Sade akan memastikan desa adat ini dibangun secepatnya pascakebakaran.
Pemerintah daerah bersama TNI, Polri, BPBD, Damkar, dan berbagai unsur lainnya telah melakukan evakuasi, pemadaman, penyediaan tempat sementara bagi warga terdampak, hingga pembersihan material pascakebakaran. Pemerintah Provinsi NTB menegaskan pemenuhan kebutuhan dasar warga—sandang, pangan, rasa aman, dan keberlangsungan pendidikan anak-anak—menjadi prioritas dalam masa tanggap darurat.
Menpar Widiyanti menekankan bahwa perhatian Kementerian Pariwisata terhadap Kampung Adat Sade tidak semata-mata karena statusnya sebagai destinasi wisata unggulan. "Kampung Adat Sade bukan sekadar destinasi wisata. Kampung Adat Sade adalah rumah masyarakat, ruang hidup budaya Sasak, sekaligus bagian penting dari kekayaan pariwisata Indonesia. Karena itu, duka masyarakat Sade juga menjadi duka kita bersama," ujarnya.
Bagi traveler yang berencana mengunjungi Lombok dalam waktu dekat, penting untuk memantau perkembangan situasi di Kampung Adat Sade. Kawasan ini biasanya menjadi destinasi wajib untuk melihat rumah tradisional beratap alang-alang dan tenun khas Sasak. Namun, aktivitas kunjungan wisata ke area terdampak kebakaran tentu akan terdampak selama masa pemulihan.
Informasi terkini mengenai status kunjungan dan proses rekonstruksi dapat dikonfirmasi melalui Dinas Pariwisata Lombok Tengah atau akun resmi pemerintah daerah setempat. Sementara itu, destinasi lain di Lombok seperti Pantai Kuta Mandalika dan Bukit Merese yang berada di kecamatan yang sama masih dapat menjadi alternatif kunjungan.