Dentuman Keras Terdengar Warga Pesisir Banten Saat Anak Krakatau Erupsi Terus-Menerus, Ini Imbauan Resmi

Penulis: Bramantyo Wicaksono  •  Sabtu, 05 September 2026 | 10:47:01 WIB
Warga pesisir Banten melaporkan dentuman keras sepanjang malam yang berkaitan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung.

PANDEGLANG — Suara dentuman keras yang membuat warga pesisir Banten terjaga sepanjang malam dikonfirmasi berdekatan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung hingga Sabtu (5/9/2026) pagi. Ketua Forum Komunikasi Kampung Siaga Bencana (FKSB) Provinsi Banten, Beni Madsira, membenarkan aktivitas vulkanik di perairan Selat Sunda itu masih tinggi, meski kolom abu tidak selalu teramati secara visual.

"Gunung Anak Krakatau saat ini masih di status Level III (Siaga)," ujarnya kepada media, sembari mengimbau warga agar tidak panik dan terus memantau informasi resmi dari BPBD serta PVMBG.

Warga Patia Sempat Terkejut dengan Dentuman Berulang

Salah satu warga Kecamatan Patia, Endang, mengaku sempat dibuat terkejut oleh suara dentuman yang datang berulang sepanjang malam. "Mendengar suara dentuman keras berkali-kali," katanya, seraya menambahkan bahwa suara tersebut masih terdengar hingga menjelang subuh.

Fenomena serupa juga dilaporkan menjalar ke sejumlah wilayah di kedua sisi Selat Sunda, seperti Kalianda, Cikande, Serang, hingga Cisarua. Gema dentuman tersebut bahkan membuat kaca dan pintu rumah warga bergetar tipis, sebagaimana terekam dalam sejumlah video yang beredar di media sosial.

Rekaman Resmi PVMBG: Erupsi Berlangsung Lebih dari 9 Jam

Berdasarkan laporan resmi PVMBG yang dikutip dari situs magma.esdm.go.id, aktivitas erupsi GAK tercatat cukup masif. Pengamat gunung api Pos Pantau GAK, Rioboniek Situmorang, mencatat kondisi visual gunung dalam laporan periodiknya. "Pengamatan visual: Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-III," tulisnya.

Erupsi dilaporkan berlangsung terus-menerus sejak Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB hingga laporan tersebut dibuat pada Sabtu pagi, disertai gemuruh dan semburan lava. Sebelumnya pada Jumat pagi, gunung ini bahkan sudah mencatat empat kali letusan, salah satunya teramati menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 300 meter di atas puncak.

Mengapa Dentuman Juga Terdengar Hingga Bandung Raya?

Meski dentuman di Banten dan Bandung sama-sama muncul berdekatan waktu dengan puncak aktivitas Anak Krakatau, sejumlah pihak menilai kesimpulan itu masih perlu dibuktikan lebih lanjut. Sejauh ini, otoritas resmi seperti BMKG dan PVMBG belum mengeluarkan pernyataan konfirmasi khusus untuk kedua fenomena dentuman pada 4-5 September 2026 ini.

Khusus untuk Banten, jaraknya yang relatif dekat dengan Selat Sunda membuat dugaan keterkaitan lebih masuk akal dibanding Bandung yang berjarak jauh lebih besar dari lokasi gunung. Pengamat mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan kaitan sebab-akibat sebelum ada analisis resmi—sebab dentuman semacam ini juga bisa dipicu faktor lain, mulai dari kondisi atmosfer, sambaran petir, hingga aktivitas seismik lokal.

Pola ini bukan hal baru. Pada peristiwa dentuman misterius yang sempat menghebohkan Jabodetabek dan Bandung pada April-Mei 2020—yang juga muncul berdekatan dengan erupsi Anak Krakatau—otoritas justru memastikan tidak ada kaitan langsung. Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG saat itu, Hendra Gunawan, menegaskan hal tersebut setelah mengecek langsung ke petugas pos pantau. "Saya sudah konfirmasi petugas pos pengamatan, mereka tidak mendengar karena letusannya juga kecil," katanya.

Radius Aman 3 Kilometer dari Kawah

Menyusul aktivitas tersebut, Tim Badan Geologi ESDM mengingatkan masyarakat untuk tidak mendekati Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer. Status gunung yang masih berada di level Siaga menuntut kewaspadaan, terutama bagi nelayan dan wisatawan yang beraktivitas di sekitar perairan Selat Sunda.

Masyarakat pesisir diminta tetap tenang namun waspada, serta hanya merujuk pada kanal resmi BPBD dan PVMBG untuk mendapatkan informasi terkini mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Reporter: Bramantyo Wicaksono
Sumber: lensabanten.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top