TANGERANG — Direktur Aplikasi Kemenekraf, Tri Wahyudi, menyatakan ancaman siber tahun ini naik beberapa kali lipat dibanding periode sebelumnya. Lonjakan itu tidak hanya menyasar infrastruktur, tetapi juga aplikasi yang beroperasi di Indonesia.
"Untuk di ancaman siber, tadi sudah disampaikan oleh Kepala BSSN, bahwa memang ancaman siber meningkat beberapa kali lipat di tahun ini. Dan tentunya mengancam juga aplikasi yang ada di Indonesia," ujar Tri di ICE BSD, Tangerang, Senin (14/9/2026).
Tri menyebut Kemenekraf sudah membina para developer dengan mengajarkan dasar-dasar keamanan siber sejak tahap awal pengembangan. Tujuannya agar aplikasi yang dibuat tidak berakhir sia-sia karena celah keamanan.
"Karenakan selama ini aplikasi dibuat kemudian baru dites, disebutnya pentest. Nah, di pentest itu akan terjadi banyak permasalahan," kata dia.
Dengan keamanan siber diajarkan lebih dulu, developer bisa menjalankan pentest sambil menyelesaikan aplikasinya. Menurut Tri, hal ini sejalan dengan penekanan Kepala BSSN soal pentingnya standar keamanan siber dan compliance di aplikasi Indonesia.
Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya menegaskan langkah cepat yang dimaksud jajarannya adalah kolaborasi bersama BSSN. Kerja sama itu menjadi salah satu upaya mengantisipasi ancaman siber terhadap aplikasi dalam negeri.
"Pak Tri sampaikan, Direktur Aplikasi kita ini, itu salah satu kolaborasi kita dengan Kepala BSSN. Adalah untuk ini (mengantisipasi ancaman siber, Red)," ujar Riefky.
Riefky menilai aplikasi digital kini telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Mulai dari bekerja, belajar, bertransaksi, menikmati hiburan, hingga membangun usaha.
"Kita bekerja melalui aplikasi, belajar melalui aplikasi, bertransaksi dan menikmati hiburan. Bahkan, membangun usaha melalui aplikasi," ujarnya dalam Indonesia Application Summit (InApps) 2026.
Kondisi tersebut, kata dia, menunjukkan industri aplikasi tidak sekadar berkaitan dengan perkembangan teknologi. Industri ini telah menjadi bagian penting dari masa depan ekonomi digital Indonesia.
"Karena itu, ketika kita berbicara mengenai industri aplikasi. Sesungguhnya kita sedang berbicara mengenai masa depan ekonomi digital Indonesia," kata Riefky.
Riefky menyatakan perkembangan kecerdasan buatan menghadirkan peluang semakin besar bagi industri aplikasi di Indonesia. Kemajuan teknologi itu harus berjalan seiring penerapan etika dan tata kelola yang baik.
Ia juga menyebut Presiden Prabowo Subianto telah menempatkan ekonomi kreatif sebagai salah satu mesin baru pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kebijakan tersebut diterjemahkan melalui Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf) 2026-2045.