BANTEN — Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di rentang 4,9% hingga 5,7%, ditopang konsumsi rumah tangga yang masih kuat berkat stimulus fiskal pemerintah. Proyeksi itu disampaikan di tengah tekanan ekonomi global yang belum mereda, dengan harga minyak sempat menyentuh US$ 132 per barel akibat konflik Timur Tengah.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyatakan konsumsi rumah tangga tetap terjaga seiring besarnya stimulus fiskal yang digelontorkan pemerintah. Stimulus itu dinilai mendorong keyakinan dan ekspektasi penghasilan konsumen menguat.
"Investasi juga tetap tumbuh baik terutama ditopang oleh investasi Pemerintah di tengah peran investasi swasta yang perlu terus ditingkatkan," ujar Destry dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (23/9).
Bank Indonesia menilai prospek perekonomian global masih belum kuat. Ketidakpastian pasar keuangan juga tetap tinggi, diperparah oleh kembali memanasnya konflik di Timur Tengah.
Ketegangan geopolitik itu mendorong harga minyak dunia sempat menyentuh US$ 132 per barel. Namun, harga minyak telah kembali turun di bawah US$ 100 per barel pada 22 September 2026. Harga berbagai komoditas dunia juga mengalami kenaikan.
"Pandangan kami terhadap prospek perekonomian global belum kuat, disertai dengan ketidakpastian pasar keuangan yang tetap tinggi," kata Destry.
Dengan kondisi tersebut, ekonomi global pada 2026 diperkirakan hanya tumbuh 3%. Tekanan inflasi global justru meningkat menjadi sekitar 4%.
Tekanan eksternal bertambah dari kebijakan moneter negara maju. Federal Funds Rate (FFR) naik menjadi 3,75%-4% pada September 2026, dan ekspektasi kenaikan lanjutan mendorong yield US Treasury meningkat.
Tekanan itu diperkuat oleh besarnya defisit anggaran pemerintah Amerika Serikat. Akibatnya, aliran investasi portofolio global ke negara-negara emerging market tertahan, dan dolar AS masih relatif kuat terhadap mata uang negara maju maupun berkembang.
Bank Indonesia menekankan kondisi eksternal tersebut membutuhkan penguatan sinergi kebijakan fiskal dan moneter. Langkah itu diperlukan untuk memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.
BI akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi dengan kebijakan pemerintah. Bagi investor, rentang proyeksi 4,9%-5,7% menjadi acuan penting dalam menakar arah suku bunga dan imbal hasil obligasi ke depan.