BANTEN — Sebanyak 48% dari masyarakat yang memperoleh akses kredit pertama lewat Kredivo adalah perempuan, seiring melonjaknya jumlah pengguna kredit pertama hingga 10 kali lipat dibanding 2019. Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo juga mencatat kredit produktif kini mendominasi penyaluran, dengan pengguna yang memakai kredit sebagai modal usaha naik 15 kali lipat dalam periode yang sama.
Perempuan masih menghadapi hambatan saat mengakses kredit formal: keterbatasan agunan, riwayat kredit yang tipis, sampai bukti pendapatan yang sulit dipenuhi. Kredit digital menjadi jalan alternatif yang lebih terjangkau bagi kelompok ini. Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo merekam pergeseran itu secara kuantitatif.
Angka 48% perempuan dari total pengakses kredit pertama bukan sekadar statistik demografis. Kredivo menyebut perluasan akses ini berjalan seiring naiknya pemanfaatan kredit untuk kegiatan produktif, bukan konsumtif semata.
Pada 2025, sebanyak 54% kredit yang disalurkan Kredivo dipakai untuk kebutuhan produktif. Jumlah pengguna yang mengakses kredit sebagai modal usaha melonjak hingga 15 kali lipat dibanding 2019.
Perempuan mengambil porsi signifikan di segmen ini. Sebanyak 48% penerima kredit usaha Kredivo merupakan perempuan, angka yang mencerminkan keterlibatan mereka di sektor usaha mikro dan kecil.
Laporan yang sama menemukan asosiasi positif antara akses kredit produktif bagi perempuan dan penguatan posisi tawar dalam rumah tangga. Temuan ini memperkuat argumen bahwa inklusi keuangan bukan hanya soal akses, tetapi juga dampak sosial yang mengikutinya.
Data Bank Dunia pada 2020 mencatat sekitar 60% UMKM di Indonesia dimiliki perempuan. Namun akses pembiayaan tetap menjadi salah satu kendala utama pengembangan usaha mereka. Perluasan kredit menyasar celah ini.
Langkah Kredivo berjalan seiring Bulan Inklusi Keuangan (BIK) yang diinisiasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kredivo menyebut pihaknya mendorong akses keuangan setara bagi laki-laki dan perempuan, termasuk lewat layanan PayLater yang menjadi pintu masuk kredit bagi pengguna baru.
"Sejak berdiri pada 2016, Kredivo percaya bahwa inklusi keuangan harus memberikan kesempatan yang setara, termasuk bagi laki-laki maupun perempuan untuk mengakses pembiayaan. Akses kredit yang sesuai kebutuhan dan kemampuan dapat menjadi salah satu enabler bagi perempuan untuk mengembangkan usaha, memperkuat kemandirian ekonomi, hingga berdampak pada kesejahteraan keluarga. Karena itu, kami ingin memastikan semakin banyak perempuan tidak hanya terjangkau layanan kredit, tetapi juga dapat memanfaatkannya secara produktif dan bertanggung jawab," ujar Chief Marketing Officer Kredivo, Indina Andamari.
Bagi pelaku usaha, data ini menegaskan kredit digital sebagai kanal pembiayaan yang makin relevan, terutama bagi yang belum punya rekam jejak bankable. Bagi investor dan pengamat industri fintech, pertumbuhan 15 kali lipat pengguna kredit modal usaha menunjukkan segmen produktif mulai menggeser dominasi kredit konsumtif di platform paylater.
Yang perlu dicermati, laporan ini bersumber dari internal Kredivo sehingga belum tentu menggambarkan pola industri secara keseluruhan. Pembanding dari data OJK soal penyaluran kredit fintech lending akan memberi gambaran lebih utuh soal seberapa besar perempuan benar-benar terlayani sektor formal.