Pencarian

Mentan Tuding Mafia Pangan di Balik Harga Ayam dan Telur Naik

Selasa, 13 Oktober 2026 • 08:07:31 WIB
Mentan Tuding Mafia Pangan di Balik Harga Ayam dan Telur Naik
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menuding adanya mafia pangan di balik kenaikan harga ayam dan telur.

BANTEN — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menuding mafia pangan mempermainkan harga ayam dan telur, memicu anomali di mana konsumen membayar Rp 40.000–Rp 50.000 per kilogram sementara peternak justru merugi. Tudingan disampaikan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah 2026 di Kemendagri, Jakarta Pusat, Senin (12/10/2026).

Rapat koordinasi itu menyoroti kondisi yang dinilai janggal. Harga ayam dan telur di tingkat konsumen terus melambung, tetapi ribuan peternak justru berunjuk rasa di DPR karena harga jual di tingkat produsen anjlok. Amran menyebut situasi itu sebagai anomali yang tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.

Ia menilai ada pihak yang sengaja mempermainkan harga sehingga konsumen harus membayar mahal, sementara peternak tidak menikmati keuntungan. "Ini anomali, Pak. Perlu kami sampaikan. Ini dulu, kalau ini dijadikan kambing hitam dulu, stok tidak ada. Kalau stok tidak ada, harga naik. Sekarang lebih anomali benar. Karena yang punya ayam, produsen ayam dan telur, itu demo kemarin, karena harga turun. Hancur," ujar Amran dalam rapat di Kemendagri, Jakarta Pusat, Senin (12/10/2026).

Harga Produsen Rp 20.000, Konsumen Rp 50.000

Data yang dipaparkan Amran menunjukkan harga ayam di tingkat produsen hanya sekitar Rp 20.000 per kilogram, padahal seharusnya berada di kisaran Rp 26.000. Di ujung rantai distribusi, konsumen bisa membayar Rp 40.000 hingga Rp 50.000.

Menurut Amran, selisih itu menandakan ada persoalan pada rantai distribusi. Ia menuding keberadaan perantara atau middleman sebagai salah satu penyebab ketimpangan harga antara produsen dan konsumen. "Itu harganya Rp 20 ribu, telur dengan ayam hari ini. Harusnya Rp 26 ribu. Tapi di ujung, Rp 40 ribu, Rp 50 ribu. Yang middleman ini harus dibereskan," tegasnya.

Amran mengaku telah menyurati Kapolri untuk menindak pihak-pihak yang diduga mempermainkan harga pangan. Menurutnya, praktik itu tidak boleh terus dibiarkan karena merugikan produsen maupun konsumen sekaligus.

"Ini negeri kita kalau begini terus, nggak beres, Pak Mendagri. Ini harus, ini mafia ini nggak boleh dikasih ruang. Jadi yang demo adalah produsen, konsumen juga demo, dua-dua demo. Terus di mana kita? Inilah pemerintah. Maaf, Pak Mendagri, kami sudah menyurat ke Kapolri, surat. Ini harus ditindak," katanya.

100 Orang Ditangkap, Belum Beri Efek Jera

Amran mengungkapkan sebanyak 100 orang telah ditangkap terkait praktik yang disebutnya sebagai permainan mafia. Namun, ia menilai tindakan tersebut belum memberikan efek jera. "Ini sudah ditangkap 100, tapi tidak nyerah. Yang mempermainkan ini adalah teman kita, orang besar. Kita terjepit, pada hari yang sama yang demo konsumen, yang demo produsen," ujarnya.

Ia menegaskan Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan agar pihak-pihak yang mempermainkan harga pangan ditindak tegas. Penegakan hukum diharapkan dapat menghentikan praktik yang merugikan masyarakat tersebut.

Dampak ke Peternak dan Konsumen

Bagi peternak, harga jual yang rendah di tingkat produsen memukul pendapatan mereka. Ribuan peternak yang berunjuk rasa di DPR menggambarkan betapa tertekannya mereka di tengah harga pangan yang justru mahal di pasaran.

Konsumen pun tidak lepas dari dampak. Harga ayam dan telur yang tinggi membuat biaya belanja rumah tangga membengkak, terutama bagi keluarga berpenghasilan rendah yang mengandalkan kedua komoditas itu sebagai sumber protein utama.

Pemerintah kini berada di posisi terjepit karena dua pihak yang berkepentingan sama-sama menyuarakan keluhan. Penegakan hukum terhadap dugaan permainan harga menjadi ujian apakah rantai distribusi pangan bisa dibenahi atau tetap menjadi celah bagi pihak yang mencari keuntungan di luar kewajaran.

Follow bantenklik.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: finance.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks