Prabowo Resmikan Hilirisasi Tahap II, Cilegon Jadi Pusat Produksi Slab Baja Karbon

Penulis: Redaksi  •  Jumat, 01 Mei 2026 | 13:41:46 WIB
Presiden Prabowo Subianto meresmikan proyek hilirisasi tahap II di Refinery Unit IV Cilacap.

CILEGON - Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, meresmikan dimulainya babak baru transformasi industri nasional melalui groundbreaking proyek hilirisasi tahap II. Agenda strategis yang dipusatkan di Refinery Unit IV Cilacap, Jawa Tengah, ini menandai komitmen pemerintah dalam mengolah kekayaan alam domestik menjadi produk bernilai tambah tinggi, termasuk pengembangan industri baja di wilayah Cilegon, Banten.

Akselerasi Industri dan Investasi Rp116 Triliun

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa kebijakan hilirisasi bukan lagi sekadar pilihan bagi Indonesia, melainkan sebuah keharusan untuk mencapai kemandirian ekonomi. Pemerintah telah mengalokasikan investasi sebesar Rp116 triliun untuk mendanai 13 proyek strategis yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Proyek-proyek ini mencakup sektor energi, mineral, hingga pertanian.

“Groundbreaking hilirisasi tahap kedua yang mencakup 13 proyek strategis hilirisasi, senilai kurang lebih 116 triliun rupiah meliputi 5 proyek di sektor energi, 5 proyek di sektor mineral, 3 proyek di sektor pertanian,” ujar Presiden Prabowo. Ia menekankan bahwa langkah ini menjadi fondasi utama bagi kebangkitan ekonomi nasional yang lebih berkelanjutan dan tidak lagi bergantung pada ekspor komoditas mentah.

Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala BPI Danantara, Rosan Roeslani, menambahkan bahwa pengelolaan aset negara melalui proyek tahap II ini merupakan instrumen penting dalam mendorong transformasi ekonomi. Menurutnya, langkah ini akan membawa Indonesia menjadi bangsa yang unggul dalam produksi dan berdaulat dalam pengelolaan sumber daya alamnya sendiri.

Cilegon Jadi Lokasi Strategis Produksi Baja Karbon

Salah satu poin krusial dalam peta besar hilirisasi tahap II ini adalah pengembangan sektor mineral di Provinsi Banten. Pemerintah secara spesifik mengalokasikan pembangunan fasilitas produksi slab baja karbon yang bersumber dari bijih besi lokal di Kota Cilegon. Proyek ini diharapkan mampu memperkuat posisi Cilegon sebagai pusat industri baja nasional serta memenuhi kebutuhan bahan baku industri manufaktur di dalam negeri.

Fasilitas di Cilegon ini akan terintegrasi dengan pengembangan ekosistem industri mineral lainnya, seperti manufaktur baja nirkarat berbasis nikel di Morowali, Sulawesi Tengah. Dengan adanya fasilitas produksi slab baja karbon di Banten, rantai pasok industri logam nasional diharapkan menjadi lebih solid dan mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor komponen baja dari luar negeri.

Selain di Cilegon, sektor mineral juga mencakup hilirisasi tembaga dan emas di Gresik, Jawa Timur, serta pengembangan aspal Buton di Karawang, Jawa Barat. Sinergi antarwilayah ini dirancang untuk menciptakan peta industri yang merata dan saling mendukung, sehingga nilai tambah dari kekayaan mineral Indonesia dapat dinikmati sepenuhnya oleh masyarakat lokal dan nasional.

Diversifikasi Proyek Strategis Nasional

Proyek hilirisasi tahap II tidak hanya menyentuh sektor mineral dan logam. Pemerintah juga memperluas cakupan ke sektor energi dengan membangun fasilitas kilang gasoline di Dumai dan Cilacap, serta pembangunan tangki operasional BBM di Palaran, Biak, dan Maumere. Di sektor pertanian dan perkebunan, pemerintah fokus pada pengolahan sawit menjadi oleofood dan biodiesel di Sumatera Utara, serta pengolahan pala dan kelapa di Maluku Tengah.

Seluruh rangkaian proyek ini bertujuan untuk menciptakan lapangan kerja baru dalam skala besar serta meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global. Dengan total 13 proyek yang berjalan serentak, pemerintah optimistis struktur industri nasional akan semakin kuat dan mampu menghadapi tantangan ekonomi global di masa depan.

Melalui investasi masif senilai Rp116 triliun ini, hilirisasi diharapkan tidak hanya berhenti pada tahap pengolahan awal, tetapi terus berkembang hingga ke produk turunan akhir. Transformasi ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia siap naik kelas dalam peta industri dunia, dengan mengedepankan kedaulatan sumber daya dan kesejahteraan hasil produksi bagi seluruh rakyat.

Reporter: Redaksi
Back to top