BANTEN — Pembicaraan merger Tesla dan SpaceX kembali mencuat jelang IPO SpaceX di Nasdaq. Menurut laporan CNBC, Musk telah mendiskusikan wacana ini dengan koleganya. SpaceX dijadwalkan melantai pada 12 Juni mendatang dengan target valuasi hingga USD 1,75 triliun dan dana segar sekitar USD 75 miliar—menjadikannya IPO terbesar dalam sejarah.
Saat ini, kapitalisasi pasar Tesla berada di angka USD 1,6 triliun. Jika merger terjadi, entitas gabungan bernilai lebih dari USD 3 triliun. Namun, sorotan bukan hanya pada besarnya angka, melainkan potensi konflik kepentingan di dalamnya.
Masalahnya terletak pada struktur kepemilikan saham. Musk hanya menggenggam sekitar 20 persen ekuitas Tesla, tetapi menguasai 85,1 persen hak suara SpaceX melalui kelas saham super-voting. Ketika Musk duduk di meja negosiasi, ia bernegosiasi dengan dirinya sendiri—dengan kepentingan yang tidak seimbang di kedua sisi.
“Tidak ada seorang pun di korporasi Amerika yang melakukan ini dalam skala seperti Musk,” demikian laporan tersebut. Pola ini sudah terbukti tiga kali sebelumnya, dan semuanya bernilai miliaran dolar.
1. SolarCity (2016) — USD 2,6 Miliar
Tesla mengakuisisi SolarCity, perusahaan panel surya yang merugi dan nyaris kehabisan uang tunai. Musk duduk di kedua dewan direksi. Meski pengadilan Delaware menyatakan transaksi itu “wajar”, direktur Tesla lainnya menyelesaikan gugatan dengan membayar USD 60 juta tanpa mengakui kesalahan. Ironisnya, setelah memenangkan gugatan, Tesla menutup sebagian operasi tenaga suryanya.
2. Twitter/X (2022) — USD 44 Miliar
Musk membeli Twitter seharga USD 44 miliar, lalu nilainya anjlok 65 persen dalam setahun. Pada Maret 2025, xAI mengakuisisi X seharga USD 33 miliar—secara ajaib memulihkan valuasi platform yang tadinya hanya USD 9 miliar.
3. xAI (2025-2026) — Investasi Tesla USD 2 Miliar
Tesla menggelontorkan USD 2 miliar ke xAI meski pemegang saham sebelumnya menolak proposal tersebut. Beberapa pekan kemudian, Musk mengakui xAI “tidak dibangun dengan benar” dan perlu dibangun ulang—setelah uang pemegang saham Tesla dan SpaceX sudah masuk.
Jika merger terjadi, pemegang saham Tesla akan menggabungkan perusahaan senilai USD 1,6 triliun dengan entitas yang 85 persen suaranya dikendalikan Musk. Entitas itu kini membawa beban Twitter yang nilainya pernah anjlok, perusahaan AI yang diakui sendiri “salah bangun”, serta bisnis roket dengan valuasi gila yang bertumpu pada mimpi Mars yang terus tertunda.
Prediksi pasar masih terbelah. Kalsih, platform prediksi, mencatat hanya 33 persen kemungkinan merger terjadi sebelum Mei 2027. Sementara Dan Ives dari Wedbush optimistis dengan angka 80-90 persen.
Belum ada detail resmi mengenai struktur merger. Namun, berdasarkan pola sebelumnya, Musk kemungkinan akan menggunakan kendali voting-nya di SpaceX untuk menentukan harga dan syarat yang menguntungkan satu pihak—dan pihak itu biasanya bukan pemegang saham minoritas Tesla.
Belum ada keputusan resmi. Musk baru mendiskusikannya dengan kolega, dan SpaceX masih fokus pada IPO Juni mendatang. Namun, analis Wedbush memperkirakan probabilitasnya tinggi dalam 1-2 tahun ke depan.
Pemegang saham minoritas Tesla. Mereka akan menggabungkan perusahaan dengan entitas yang dikendalikan Musk secara voting, tanpa negosiasi independen yang seimbang.
Gabungan valuasi Tesla (USD 1,6 triliun) dan SpaceX (USD 1,75 triliun) mencapai sekitar USD 3,35 triliun, atau lebih dari Rp 53.000 triliun dengan kurs Rp 16.000 per dolar AS.