BANTEN — Industri otomotif penuh dengan cerita kesuksesan, tapi ada juga babak kelam yang lahir dari ambisi yang salah arah. Seperti puddle of engine oil on a red carpet, beberapa model menonjol karena alasan yang salah. Tiga di antaranya adalah Jeep Willys-Overland Jeepster (1948), Chevrolet Corvair (1959), dan Volkswagen K70 (1970). Ketiganya punya DNA yang sama: lahir dari pabrikan besar, tapi mati karena gagal menjawab pertanyaan paling mendasar dari konsumen.
Pada akhir 1940-an, Willys-Overland khawatir penghuni suburban tidak tertarik membeli kendaraan 4WD sekeras CJ-2. Solusinya? Lahirlah Jeepster pada 1948, sebuah roadster "mewah" yang justru menghilangkan DNA utama Jeep: penggerak empat roda. Mobil ini hanya berpenggerak roda belakang dengan ground clearance rendah, persis kebalikan dari CJ-2 yang tangguh.
Hasilnya? Konsumen yang datang ke diler Jeep menginginkan kendaraan 4WD, mereka mengabaikan Jeepster. Sementara calon pembeli yang mungkin tertarik bahkan tidak tahu mobil ini ada karena promosi yang buruk. Produksi berakhir setelah tahun model 1950, dengan total kurang dari 20.000 unit terjual. Nama Jeepster sempat dihidupkan kembali pada 1966 sebagai pesaing International-Harvester Scout, tapi trauma pertama sudah terlanjur membekas.
Chevrolet Corvair yang dirilis 1959 seharusnya menjadi jawaban atas Volkswagen Beetle. Dengan mesin belakang dan pilihan bodi dari coupé hingga convertible, termasuk versi turbocharged, Corvair punya potensi besar. Namun, semuanya runtuh saat Ralph Nader menerbitkan Unsafe at Any Speed pada 1965.
Nader mengkritik habis suspensi swing axle Corvair yang dianggap membuat mobil rawan kecelakaan. Meski generasi kedua mendapat suspensi belakang independen, reputasi Corvair sudah hancur. Chevrolet menghentikan produksi pada 1969 dan tidak pernah lagi membuat model bermesin belakang. Sebuah pelajaran bahwa persepsi keselamatan bisa lebih mematikan daripada cacat teknis itu sendiri.
Ketika Volkswagen mengakuisisi NSU pada 1969, yang mereka incar adalah kapasitas produksi, bukan teknologi Wankel milik NSU. Anehnya, mereka justru membatalkan model Ro80 namun menyelamatkan model K70 yang sudah siap produksi—dengan satu syarat: NSU tidak boleh memakainya. Hasilnya, K70 diluncurkan pada 1970 memakai logo Volkswagen.
Ini adalah mobil pertama Volkswagen dengan mesin depan dan pendingin cairan. Secara teknis canggih, tapi secara strategi bencana. Versi bawahnya tumpang tindih dengan VW 412 yang masih berpenggerak roda belakang, sementara varian atasnya bersaing langsung dengan Audi 100. Hanya sekitar 210.000 unit terjual hingga produksi berakhir pada 1975. K70 menjadi saksi bisu kegagalan Volkswagen mengintegrasikan akuisisi tanpa merusak lini produk sendiri.
Jeepster, Corvair, dan K70 punya kesamaan: lahir dari pabrikan besar yang sedang panik atau terlalu ambisius. Mereka mencoba mengisi celah pasar yang belum ada, atau mengubah identitas merek secara paksa. Hasilnya, mobil-mobil ini lebih banyak menimbulkan pertanyaan daripada jawaban. Bagi konsumen Indonesia yang mungkin melihat mobil-mobil ini di artikel klasik, kisah mereka adalah pengingat bahwa inovasi tanpa pemahaman pasar hanya akan berakhir di buku sejarah—bukan di garasi.