BANTEN — Kabar terbaru dari Tesla justru datang dari lantai bursa, bukan dari lini produksi. Saham perusahaan kendaraan listrik asal Amerika Serikat itu berhasil menanjak meskipun dua proyek ambisiusnya — robotaxi dan robot humanoid — mengalami penundaan jadwal pengembangan. Fenomena ini menarik dicermati, terutama di tengah tekanan pasar yang kerap menghukum perusahaan yang gagal memenuhi tenggat waktu.
Proyek robotaxi yang sempat digadang-gadang sebagai revolusi transportasi otonom, serta robot humanoid yang dirancang untuk menggantikan pekerjaan fisik manusia, sama-sama mengalami kemunduran jadwal. Namun alih-alih membuat investor kabur, harga saham Tesla justru menguat. Pasar seolah memberi sinyal bahwa prioritas jangka pendek Tesla — seperti peningkatan kapasitas produksi dan efisiensi biaya — dinilai lebih realistis ketimbang proyek futuristik yang belum jelas kepastian regulasinya.
Di sisi lain, Tesla masih harus menghadapi sorotan tajam terkait insiden kecelakaan fatal di Katy, Texas. Sebuah Tesla Model 3 menabrak rumah dan menewaskan seorang wanita berusia 76 tahun. Sopir yang mengemudikan mobil tersebut mengklaim fitur Autopilot sedang aktif saat kecelakaan terjadi.
Namun klaim itu langsung dibantah oleh direktur Autopilot Tesla. Hasil investigasi internal menunjukkan bahwa sopir justru menginjak pedal gas penuh, bukan mengaktifkan sistem otonom. Data dari kendaraan mencatat kecepatan mencapai 73 mph (sekitar 117 km/jam) saat benturan terjadi. Kasus ini kini tengah diselidiki lebih lanjut oleh otoritas setempat untuk memastikan apakah ada kesalahan sistem atau murni human error.
Kenaikan saham Tesla di tengah dua kabar kontras ini menunjukkan bahwa investor mulai memisahkan antara narasi jangka panjang dan realitas operasional. Penundaan robotaxi dan humanoid dianggap sebagai langkah pragmatis, bukan kegagalan. Sementara itu, kasus kecelakaan di Texas justru memperkuat argumen bahwa fitur otonom Tesla masih memerlukan pengawasan ketat — sebuah fakta yang sebenarnya sudah dipahami oleh pasar.
Bagi pemilik Tesla di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa fitur Autopilot bukanlah sistem mengemudi otonom penuh. Fitur tersebut tetap membutuhkan perhatian penuh pengemudi, sebagaimana diatur dalam buku panduan kendaraan. Hingga saat ini, belum ada laporan resmi mengenai recall atau pembaruan perangkat lunak terkait insiden Texas.