SERANG — Temuan ini menjadi peringatan bagi masyarakat di wilayah dengan sinar matahari melimpah, termasuk Banten. Para peneliti menegaskan bahwa meskipun sinar ultraviolet B (UVB) berperan penting dalam merangsang produksi vitamin D di kulit, respons setiap individu terhadap paparan yang sama bisa berbeda-beda.
Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa sebagian orang tetap berisiko mengalami kekurangan vitamin D meski tinggal di daerah tropis. Hal ini membantah anggapan umum bahwa durasi berjemur yang lama otomatis mencukupi kebutuhan vitamin D harian.
Penelitian tersebut menyoroti sejumlah variabel yang turut memengaruhi pembentukan vitamin D, di antaranya:
Dengan kata lain, kebiasaan berjemur saja tidak cukup menjadi satu-satunya andalan. Tubuh membutuhkan kombinasi antara paparan sinar matahari yang tepat dan asupan nutrisi dari makanan.
Para peneliti menekankan pentingnya konsumsi makanan sumber vitamin D sebagai langkah antisipasi. Beberapa bahan pangan yang direkomendasikan antara lain ikan berlemak, telur, produk susu yang telah difortifikasi, serta suplemen tambahan jika diperlukan.
Masyarakat diimbau untuk tidak hanya mengandalkan kebiasaan berjemur. Pemeriksaan kadar vitamin D secara berkala dan penerapan pola makan bergizi seimbang dinilai tetap diperlukan, terutama bagi kelompok yang berisiko tinggi mengalami defisiensi.
Temuan ini relevan bagi warga di Provinsi Banten yang memiliki intensitas paparan matahari tinggi sepanjang tahun. Riset ini mengingatkan bahwa kebutuhan vitamin D harus dikelola secara holistik, bukan sekadar dari satu sumber.
Langkah sederhana seperti menambahkan menu ikan ke dalam lauk harian atau memeriksakan kadar vitamin D ke fasilitas kesehatan terdekat bisa menjadi langkah awal yang efektif. Defisiensi vitamin D dalam jangka panjang diketahui dapat memengaruhi kesehatan tulang dan sistem imun tubuh.