LEBAK — Kabupaten Lebak yang selama ini dikenal sebagai lumbung pangan terbesar di Banten kini mengandalkan 14 Brigade Pangan berisi petani muda untuk mempertahankan produktivitas. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar, mengatakan brigade ini menjadi garda terdepan dalam menggenjot hasil panen secara profesional.
"Mereka petani milenial per Brigade Pangan menggarap lahan pertanian padi sawah seluas 150-200 hektare," kata Rahmat di Lebak, Kamis.
Pengelolaan pertanian oleh Brigade Pangan tidak lagi mengandalkan cara tradisional. Mereka menggunakan alat dan mesin pertanian modern seperti pompa, traktor, hingga rice transplanter yang mampu menanam padi di lahan satu hektare hanya dalam waktu 20 menit.
Saat panen, combine harvester digunakan sebagai alat perontok padi sekaligus pembajak sawah. Hasilnya, biaya produksi padi turun drastis dari Rp12 juta menjadi Rp4-5 juta per hektare.
"Penggunaan alat pertanian itu dapat menurunkan biaya produksi padi dari Rp12 juta menjadi Rp4-5 juta per hektare," ujar Rahmat.
Musim kemarau panjang yang terjadi saat ini tidak menyurutkan gerakan percepatan tanam. Brigade Pangan telah menyiapkan pompanisasi, perbaikan sarana irigasi, embung, dan sumber mata air untuk memastikan ketersediaan air. Mereka juga memiliki akses ke benih unggul, pupuk, dan pestisida.
Rahmat menargetkan panen serempak dari seluruh brigade untuk mewujudkan swasembada pangan nasional.
Kabupaten Lebak memiliki Luas Tambah Tanam (LTT) mencapai 157 ribu hektare per tahun. Dari luas tersebut, produksi padi mencapai sekitar 770 ribu ton, setara 440 ribu ton beras.
Sementara kebutuhan konsumsi beras masyarakat Lebak yang berpenduduk 1,5 juta jiwa hanya sekitar 180 ribu ton per tahun. Artinya, terdapat surplus 260 ribu ton beras.
"Kita meyakini dengan surplus 260 ribu ton itu bisa menyumbangkan ketersediaan pangan ke daerah lain, seperti Tangerang, Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi," kata Rahmat.