TANGERANG SELATAN — Marissa Sutanto, influencer yang dikenal lewat aksinya sebagai drummer panci, tidak berhenti di sekadar konten hiburan. Lewat lagu "KITA INDONESIA" yang diluncurkan di Umatis Resto & Venue, BSD City, Sabtu (1/8/2026), ia bersama musisi Widiyanto Sutanto mengajak masyarakat membangun komunitas musik berbasis barang sederhana.
Gerakan ini dirancang lintas usia. Marissa menyebut kegiatan bermusik bersifat komunal, sehingga bisa diikuti anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga lansia. Ia menambahkan, aktivitas ini bukan hanya wadah berkarya, tetapi juga berfungsi sebagai terapi dan olahraga ringan bagi peserta.
Marissa menegaskan bahwa kreativitas tidak perlu menunggu kepemilikan alat musik mahal. Benda-benda rumah tangga seperti ember, galon, seng, hingga kipas dapat diolah menjadi instrumen yang menarik.
"Anak-anak muda harus tahu bahwa berkarya tidak harus menunggu memiliki alat musik yang mahal. Yang terpenting adalah kemauan untuk berkarya dan berkolaborasi," ujarnya dalam konferensi pers.
Ia berharap gerakan ini nantinya melibatkan instansi pemerintah, komunitas, dan sektor pariwisata agar jangkauannya lebih luas. Pembinaan teknik dilakukan lewat komunitas Aku Bisa Musik, sementara KITA INDONESIA menjadi wadah kolaborasi berskala nasional.
Di sisi lain, Widiyanto Sutanto menghadirkan kekayaan musik tradisional Indonesia dalam balutan aransemen kontemporer. Angklung, bonang, sampek dari Kalimantan, hingga suling Melayu dipadukan dengan unsur musik modern.
"Saya ingin menunjukkan bahwa alat musik tradisional Indonesia tidak kalah keren. Selama ini banyak yang menganggap musik tradisional sudah kuno, padahal jika dikemas dengan pendekatan modern hasilnya bisa luar biasa," kata Widiyanto.
Perpaduan instrumen modern, alat etnik, dan benda sederhana menjadi simbol bahwa keberagaman Indonesia dapat disatukan dalam harmoni. Peluncuran lagu ini turut melibatkan Choir Anak GMCC, komunitas Aku Bisa Musik, Ikatan Dance Sport Indonesia (IODI) Kota Tangerang Selatan, serta sejumlah sanggar seni lainnya.
Antusiasme masyarakat terhadap program ini terbilang tinggi. Marissa mengungkapkan, tidak hanya generasi muda, sejumlah lansia mulai menunjukkan ketertarikan untuk belajar musik karena metode pembelajarannya dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing peserta.
"Bermusik adalah bahasa universal. Semua orang bisa belajar sesuai kapasitasnya. Yang penting mereka merasa dilibatkan dan menjadi bagian dari sebuah komunitas," jelasnya.
Melalui lagu ini, keduanya berharap lahir ruang kolaborasi baru yang menginspirasi masyarakat untuk berkarya, melestarikan budaya, dan memperkuat semangat persatuan Indonesia. Rencana kerja sama dengan pemerintah daerah pun disebut akan segera digodok.