BANTEN — Henry Ford memenangkan gugatan atas paten George Selden pada 1911, membebaskan produsen mobil Amerika dari monopoli lisensi yang nyaris menguasai seluruh industri sejak 1879. Putusan pengadilan memutus bahwa paten Selden hanya berlaku untuk mesin kompresi dua-tak Brayton, bukan untuk semua mobil. Kemenangan ini membuka jalan bagi Ford dan pabrikan lain memproduksi kendaraan tanpa membayar royalti ke pemegang paten.
George Selden bukan insinyur yang membangun mobil pertama. Ia seorang pengacara paten dari Rochester, New York, yang mengajukan hak paten atas konsep mobil pada 1879, tujuh tahun sebelum Carl Benz mematenkan Motorwagen di Jerman. Bedanya, Benz sudah membangun kendaraan yang benar-benar berjalan. Selden hanya punya gambar dan mesin yang belum pernah dipasang ke mobil utuh.
Selden memainkan strategi jangka panjang. Ia sengaja menunda proses review paten selama belasan tahun, menunggu industri otomotif Amerika tumbuh dan menguntungkan sebelum haknya resmi dikabulkan. Paten baru diberikan pada 1895, sekitar 16 tahun setelah pengajuan pertama. Ia sering disebut sebagai patent troll pertama di dunia.
Rencana Selden berjalan mulus untuk sementara waktu. Pada 1899, seorang pengusaha bernama William Whitney tengah meneliti paten saat mempertimbangkan membeli beberapa pabrikan mobil. Ia menemukan paten Selden dan bersama rekan-rekannya mendirikan holding company bernama Electric Vehicle Company (EVC). EVC kemudian menguasai sekaligus menegakkan paten Selden terhadap pabrikan lain.
Salah satu yang pertama digugat adalah Winton Motor Carriage Co., milik pelopor otomotif Alexander Winton. Pertarungan hukum berlangsung sengit dan mahal. Winton kalah dan akhirnya memilih menyelesaikan perkara di luar pengadilan. Dari situ, EVC, Winton, dan sejumlah pabrikan lain membentuk Association of Licensed Automobile Manufacturers (ALAM) untuk mengelola urusan paten. Ford tidak termasuk di dalamnya.
Ford dan Winton sebenarnya sudah pernah berhadapan di lintasan balap. Pada 1901, Ford mengalahkan Winton dalam balapan bersejarah yang gaungnya masih terasa hingga kini, termasuk pada livery tim IMSA Mustangs yang terinspirasi dari kemenangan itu. Pertarungan kedua terjadi di pengadilan, dan kali ini berlangsung selama delapan tahun.
Putusan akhir pada 1911 berpihak kepada Ford. Pengadilan memutus bahwa paten Selden sah, tetapi hanya berlaku spesifik untuk mesin kompresi dua-tak Brayton yang digunakan dalam desain aslinya. Selama Ford dan pabrikan lain menghindari jenis mesin tersebut, mereka bebas berproduksi. Paten asli Selden sendiri kedaluwarsa hanya dua tahun kemudian, pada 1913.
Selden tidak kembali ke praktik hukum. Ia justru terjun penuh ke industri otomotif. Ia membangun dua mobil fungsional sebagai bukti pendukung kasus patennya, lalu mendirikan Selden Motor Company pada 1906. Perusahaan itu memproduksi mobil pertamanya setahun kemudian.
Sepanjang masa produksinya, Selden Motor Company membuat lebih dari 7.400 kendaraan dengan lini bodi yang lengkap sebelum berhenti memproduksi mobil pada 1914. Ironisnya, meski patennya tentang mesin kompresi dua-tak, semua mobil produksinya memakai mesin empat-tak siklus Otto standar.
Mesinnya berukuran besar. Selden 40R Varsity Roadster 1911 membawa mesin empat silinder 40 tenaga kuda dengan kapasitas 356 inci kubik, setara lebih dari 5,8 liter. Itu termasuk salah satu mesin empat silinder terbesar yang pernah dibuat. Mobil-mobil Selden juga kelas premium. Model pertama dilaporkan dijual antara 2.000 hingga 2.500 dolar AS, setara 71.000 hingga 89.000 dolar AS pada nilai sekarang.
Harganya makin mahal seiring waktu. Selden jarang muncul di lelang, tetapi satu unit 40R Varsity Roadster istimewa pernah dua kali melintas di balai lelang Sotheby's pada abad ini. Hanya enam unit tersisa di dunia, salah satunya dengan rumble seat tetap dan riwayat kepemilikan yang bisa dilacak hingga Selden sendiri. Mobil itu terjual 220.000 dolar AS pada 2007, lalu kembali dilelang dengan harga 159.500 dolar AS.
Bagi industri otomotif Amerika, putusan 1911 menjadi titik balik. Tanpa kemenangan Ford, setiap mobil yang diproduksi dan dijual di negara itu berpotensi tetap berada di bawah monopoli Selden, dengan royalti mengalir ke pemegang paten yang tidak pernah membangun kendaraan produksi sampai bertahun-tahun kemudian.