BANTEN — Rosatom State Corporation dan PT Pembangkit Listrik Nuklir meneken kesepakatan pasokan listrik dari dua unit PLTN terapung berkapasitas total 200 MW untuk wilayah utara Pulau Halmahera, Maluku Utara. Perjanjian yang diteken di sela Russian Energy Week di Moskow itu disebut Rosatom sebagai kontrak ekspor listrik PLTN terapung pertama di dunia.
Kesepakatan itu membuka jalur baru bagi pasokan listrik rendah karbon di kawasan Indonesia Timur. Dua unit Floating Power Unit (FPU)-100 yang disediakan Rosatom akan memakai reaktor nuklir seri RITM, sistem yang menurut perusahaan telah terbukti efisien, andal, dan aman selama bertahun-tahun pengoperasian. Pengalaman operasional itu menjadi pijakan Rosatom mengembangkan pembangkit nuklir skala kecil untuk pasar internasional.
Pasokan listrik pertama dari proyek di Halmahera diperkirakan baru mengalir paling cepat lima tahun setelah ketentuan utama dalam kontrak pasokan listrik mulai berlaku. Artinya, listrik dari PLTN terapung ini tidak akan masuk ke sistem kelistrikan Malut dalam waktu dekat.
Penandatanganan berlangsung di sela acara Russian Energy Week (REW) di Moskow. Rosatom menyebut kerja sama ini sebagai tonggak baru hubungan energi Indonesia-Rusia, sekaligus perjanjian ekspor pertama di dunia yang secara khusus mencakup pasokan listrik dari unit pembangkit listrik terapung.
Direktur Jenderal Rosatom Alexey Likhachev menilai kesepakatan tersebut sebagai langkah penting dalam kerja sama energi jangka panjang dengan Indonesia. Ia menyinggung pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto yang menegaskan arah Indonesia menuju penguatan keamanan energi dan netralitas karbon.
"Kerja sama antara Rosatom dan Indonesia berkembang pesat. Pertemuan kami baru-baru ini dengan Presiden Prabowo Subianto menegaskan kembali bahwa negara kepulauan terbesar di dunia ini secara konsisten mengejar arah menuju penguatan keamanan energi dan pencapaian netralitas karbon," ujar Likhachev dalam keterangan tertulis, Senin (19/10/2026).
Likhachev menambahkan perjanjian itu tidak sekadar soal pasokan listrik, tetapi juga menjadi dasar kemitraan jangka panjang kedua negara. "Saya ingin menekankan signifikansi historis dari tonggak ini, perjanjian ekspor pertama di dunia untuk pasokan listrik dari unit pembangkit listrik terapung," katanya.
Direktur PT Pembangkit Listrik Nuklir Yudi Utomo Imardjoko menegaskan proyek ini dirancang sebagai kerja sama antarpelaku usaha atau business-to-business (B2B). Investasi berasal dari sektor swasta dan tidak mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menurut Yudi, energi nuklir menjadi salah satu opsi untuk menopang kebutuhan listrik Indonesia yang terus naik. Pasokan listrik rendah karbon yang andal dinilai diperlukan untuk menjaga ketahanan energi jangka panjang dan pertumbuhan ekonomi, terutama di kawasan Indonesia Timur.
"Penyediaan listrik yang bersih, andal, dan bebas karbon bagi masyarakat sangat penting untuk menjamin masa depan energi Indonesia dalam jangka panjang," kata Yudi. Ia juga mengapresiasi dukungan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Rusia yang memfasilitasi kerja sama tersebut.
Bagi masyarakat di utara Pulau Halmahera, proyek ini menjanjikan sumber listrik tambahan di wilayah yang selama ini bergantung pada pembangkit berbasis fosil. Kawasan itu menjadi titik tumbuh industri pengolahan nikel dan smelter yang menuntut pasokan daya besar dan stabil.
Investor PT Pembangkit Listrik Nuklir, Haji Romo Nitiyudo Wachjo, menyebut proyek ini sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian energi Indonesia dan mendukung pembangunan di Malut. Ia menyampaikan penghargaan kepada Presiden Vladimir Putin, delegasi Rusia, dan Rosatom atas komitmen terhadap kemitraan tersebut.
"Yang terpenting, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pertahanan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin karena telah mempercayakan kepada Profesor Yudi dan saya tanggung jawab untuk mewujudkan proyek pembangkit listrik tenaga nuklir 200 MW," kata Nitiyudo.
Dengan skema B2B dan tanpa beban APBN, proyek PLTN terapung Halmahera menjadi uji coba bagi masuknya teknologi nuklir sipil ke pasar Indonesia. Jika jadwal lima tahun itu terpenuhi, Malut akan mencatat sejarah sebagai lokasi PLTN terapung pertama yang beroperasi di Tanah Air.