TANGERANG — Kemarau tahun ini disebut lebih ekstrem dibanding periode sebelumnya. Kepala Balai UPT DAS Cidurian Cisadane, Didik Purwanto, mengungkapkan curah hujan yang lebih rendah dari normal menjadi penyebab utama penyusutan volume air sungai tersebut.
Dampak Penurunan Debit terhadap Pasokan Air Warga
Penurunan 12 persen ini langsung memengaruhi ketersediaan air baku di instalasi pengolahan air milik PDAM. Meski demikian, Didik memastikan pasokan untuk kebutuhan rumah tangga dan irigasi pertanian masih dalam kondisi aman hingga saat ini.
"Kondisi tahun ini lebih ekstrem, karena curah hujan lebih rendah, sehingga debit Sungai Cisadane mengalami penurunan sekitar 12 persen," ujar Didik, Kamis (16/7/2026).
Langkah Antisipasi: Normalisasi dan Pemantauan Berkala
Untuk mengantisipasi dampak yang lebih parah, Balai UPT DAS Cidurian Cisadane telah menutup seluruh pintu Bendung Pasar Baru. Langkah ini bertujuan menjaga tinggi muka air di bagian hulu agar suplai air ke instalasi pengolahan dan lahan pertanian tetap stabil.
"Selain menutup seluruh pintu bendung, kami juga berkoordinasi dengan Perumda Air Minum (PDAM) untuk melakukan normalisasi atau dredging di area intake. Normalisasi dilakukan agar pengambilan air baku tetap berjalan maksimal," jelas Didik.
Pihaknya juga terus melakukan pemantauan debit air secara berkala selama musim kemarau. Bila kondisi kekeringan semakin ekstrem, langkah antisipasi tambahan akan disiapkan untuk menjaga pasokan air baku, kebutuhan irigasi, serta fungsi pengendalian banjir.
Imbauan kepada Warga Tangerang
Didik mengimbau masyarakat untuk mulai menghemat penggunaan air. Langkah sederhana ini dinilai krusial untuk menjaga ketersediaan sumber daya air hingga musim penghujan tiba. "Hingga saat ini pasokan air baku untuk kebutuhan masyarakat maupun irigasi pertanian masih dalam kondisi aman. Tapi kami terus melakukan pemantauan debit air secara berkala selama musim kemarau ini," pungkasnya.