TANGERANG SELATAN — Pemerintah Kota Tangerang Selatan memastikan pengerukan Sungai Ciputat bukan sekadar proyek musiman. Kegiatan ini merupakan bagian dari siklus pemeliharaan rutin yang dijadwalkan berkelanjutan untuk menjaga fungsi sungai sebagai saluran utama pengendali banjir di wilayah tersebut.
Kepala DSDABMBK melalui Koordinator Pemeliharaan Alat Berat dan Saluran Air Bidang Operasi dan Pemeliharaan Sungai, Jupri, menyatakan bahwa pengerukan tahap awal menyasar bagian hulu. Setelah kawasan Pondok Hijau rampung, pengerjaan akan bergeser ke hilir, yakni di sekitar Perumahan Ciputat Baru.
Material Lumpur di Dasar Sungai Jadi Biang Kerok Banjir
Jupri menjelaskan, penumpukan material lumpur dan endapan di dasar sungai telah mengurangi daya tampung aliran secara signifikan. Kondisi ini membuat air mudah meluap ke permukiman ketika curah hujan tinggi, terutama di titik-titik yang selama ini menjadi langganan genangan.
“Pengerukan dilakukan pada aliran Sungai Ciputat mulai dari kawasan Pengasinan hingga Bendung Ciputat. Saat ini kami fokus di bagian hulu, tepatnya kawasan Pondok Hijau,” ujar Jupri kepada wartawan.
Lima Kawasan Padat Penduduk yang Akan Merasakan Manfaatnya
Normalisasi ini diproyeksikan memberikan dampak langsung bagi ribuan warga yang bermukim di bantaran sungai. Beberapa kawasan yang disebut bakal merasakan manfaat pengerukan antara lain:
- Pondok Hijau
- Inhutani
- Kawasan Flyover Ciputat
- Cipayung
- Kompleks Perumahan Narada
Dengan bertambahnya kapasitas sungai, aliran air hujan diharapkan lebih lancar menuju hilir sehingga potensi genangan di kelima titik tersebut dapat ditekan.
Target Jangka Panjang Pengendalian Banjir
Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie menegaskan bahwa pengendalian banjir tidak bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan perawatan infrastruktur secara berkala dan integrasi antarperangkat daerah agar sistem drainase perkotaan tersambung dengan baik ke aliran sungai.
“Pengendalian banjir menjadi salah satu prioritas Pemerintah Kota Tangerang Selatan. Karena itu, normalisasi dan pengerukan sungai akan terus dilakukan secara bertahap agar kapasitas aliran air tetap terjaga, sehingga risiko genangan dapat diminimalkan dan masyarakat merasa lebih aman,” kata Benyamin, Senin (3/8/2026).
Selain pengerukan, pemerintah juga menggencarkan pemeliharaan drainase lingkungan dan peningkatan kapasitas saluran air. Keberhasilan program ini disebut turut bergantung pada kepedulian warga untuk tidak membuang sampah ke sungai, mengingat sinergi antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mewujudkan sistem pengelolaan air yang berkelanjutan di Tangsel.