BANTEN — Distributor arthouse Turki, Baska Sinema, resmi mengakuisisi hak tayang bioskop domestik untuk "A Woman Asleep", film drama eksperimental berbahasa Inggris yang seluruhnya dihasilkan lewat kecerdasan buatan. Karya berdurasi 80 menit garapan seniman sekaligus sutradara Vikki Bardot ini dijadwalkan rilis musim semi 2027 di 20 kota Turki. Film ini diproduksi studio AI asal Turki, Spongeworthy, yang sebelumnya merilis dokumenter "Post Truth".
Baska Sinema bukan distributor yang asing dengan proyek berbasis AI. Sebelum "A Woman Asleep", rumah produksi ini sudah menayangkan "Post Truth", dokumenter garapan Alkan Avc?o?lu yang juga diproduksi Spongeworthy dan sempat menarik perhatian di sirkuit festival.
Langkah tersebut menempatkan Turki sebagai salah satu pasar awal yang serius menayangkan film AI di bioskop komersial, bukan sekadar di ruang pameran seni atau platform streaming.
Siapa Vikki Bardot, Sutradara di Balik Film Ini
Bardot dikenal sebagai salah satu praktisi awal seni fotografi berbasis AI dan video art. Karyanya telah dipamerkan di sejumlah kota besar, termasuk New York, Paris, London, Berlin, Roma, dan Miami.
Pada 2023, ia membawakan pidato TEDx soal AI dan seni. Film pendeknya, "Dreamt by Another", telah tayang di lebih dari 20 festival dan baru-baru ini diakuisisi Mubi untuk pasar Turki.
Pengalaman lima tahun di bidang pembuatan film AI membuat Bardot punya pandangan sendiri soal teknologi ini. "Saya sudah fokus pada pembuatan film AI selama 5 tahun, bahkan sebelum topik ini populer di dunia sinema," ujarnya dalam pernyataan resmi.
"Penggunaan AI yang paling menarik bukanlah menciptakan ulang bentuk-bentuk Hollywood. Melainkan memberi kebebasan bagi pembuat film independen untuk membuat karya personal dan ambisius secara formal yang mungkin tidak akan pernah mendapat pendanaan," tambahnya.
Terinspirasi Film Kult Prancis Tahun 1974
"A Woman Asleep" mengambil inspirasi dari film kult Prancis 1974, "The Man Who Sleeps", garapan Bernard Queysanne dan Georges Perec. Film tersebut diangkat dari novel Perec berjudul "A Man Asleep".
Versi Bardot menyoroti alienasi dan rasa mati rasa di tengah dunia yang hiperterkoneksi. Narasinya dibangun memakai klon suara AI yang dilatih dari suara sang sutradara sendiri.
Materi promosi film menyebut pilihan itu memperluas kerangka konseptual dan kualitas surealis karya. Narasi sengaja ditempatkan di ruang antara manusia dan sintetis, sejalan dengan dunia yang digambarkan film.
Pendekatan bercerita itu merujuk pada gaya Alain Resnais, Michelangelo Antonioni, Chris Marker, dan Apichatpong Weerasethakul. Proses penyuntingan film memakan waktu dua tahun, disusun dari 50.000 bidikan individual.
Alasan Baska Sinema Melirik Film AI
Direktur Baska Sinema, Armagan Lale, menegaskan pihaknya tidak tertarik pada teknologinya semata. Menurut dia, yang jadi pertimbangan adalah cara pembuat film memakai alat baru untuk memperluas kemungkinan ekspresi sinema.
"A Woman Asleep menawarkan perspektif khas dan berpusat pada perempuan tentang masyarakat yang dibentuk oleh ketergantungan teknologi dan keterputusan emosional," kata Lale.
"Yang penting bagi kami adalah alat-alat ini melayani visi sinematik yang jelas," tambahnya.
Apa Selanjutnya
Rilis di 20 kota Turki pada musim semi 2027 menjadi ujian awal bagi film AI di layar bioskop. Baska Sinema dan Spongeworthy belum mengumumkan rencana distribusi ke luar Turki.
Bagi industri film Indonesia, model distribusi semacam ini layak dicermati. Sejumlah studio lokal mulai menjajaki produksi berbasis AI, sementara regulasi soal hak cipta dan suara masih jadi perdebatan di tingkat global.