BANTEN — Realisasi investasi Indonesia pada kuartal III 2026 mencapai Rp528,7 triliun, tumbuh 7,6% secara tahunan. Lonjakan penanaman modal asing (PMA) sebesar 27,4% menutupi penurunan penanaman modal dalam negeri (PMDN) yang terkontraksi 7,5% pada periode Juli-September 2026.
Laporan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi kuartal III 2026 terdiri atas PMA senilai Rp270,2 triliun dan PMDN Rp258,5 triliun. Total realisasi menyerap 745.634 tenaga kerja Indonesia, naik 5,1% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Angka pertumbuhan 7,6% year-on-year menempatkan capaian kuartal III 2026 di atas laju investasi periode sebelumnya, meski komposisi sumbernya bergeser cukup tajam dari dalam negeri ke luar negeri.
PMA Melonjak 27,4%, PMDN Terkontraksi 7,5%
Penanaman modal asing menjadi motor utama pertumbuhan dengan kenaikan sekitar 27,4% (yoy). Sebaliknya, realisasi PMDN turun 7,5% (yoy) pada periode yang sama, menandakan minat investor domestik masih tertekan.
Kontras dua arah ini membuat porsi PMA terhadap total investasi kuartal III 2026 mendekati separuh, setelah bertahun-tahun PMDN mendominasi struktur realisasi investasi nasional.
Berdasarkan sebaran wilayah, kontribusi Pulau Jawa mencapai Rp257,1 triliun atau naik 13,9% (yoy), setara 48,6% dari total investasi. Wilayah luar Pulau Jawa menyumbang Rp271,6 triliun, naik 2,2% (yoy), dengan porsi 51,4%.
Meski porsi luar Jawa lebih besar, laju pertumbuhannya jauh di bawah Jawa. Ini mengindikasikan ekspansi investasi baru masih terkonsentrasi di koridor industri Jawa.
Logam Dasar Pimpin, Jawa Barat dan DKI Jadi Lokomotif
Secara subsektor, industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya mencatat realisasi gabungan PMA dan PMDN terbesar, yakni Rp118,8 triliun. Sektor hilirisasi mineral masih menjadi magnet utama arus modal masuk.
Dua provinsi menonjol sebagai tujuan investasi terbesar pada Juli-September 2026:
- Jawa Barat: Rp91 triliun
- DKI Jakarta: Rp75,7 triliun
Jawa Barat yang selama ini menjadi basis manufaktur dan kawasan industri menempati posisi puncak, disusul DKI Jakarta sebagai pusat jasa keuangan dan kantor pusat korporasi.
Apa Artinya bagi Pelaku Usaha dan Investor
Kombinasi PMA kuat dan PMDN lemah memberi sinyal bahwa kepercayaan investor asing membaik, sementara pelaku usaha domestik cenderung menahan ekspansi. Tekanan biaya modal, pelemahan daya beli, dan ketidakpastian permintaan dalam negeri kerap menjadi penyebabnya.
Bagi investor pasar saham, data BKPM ini relevan untuk membaca prospek emiten di sektor logam dan industri dasar, yang konsisten menyerap investasi terbesar. Arus modal asing yang deras juga bisa menjadi indikator awal permintaan terhadap obligasi dan instrumen rupiah.
Pemerintah belum merinci faktor pendorong lonjakan PMA maupun penyebab penurunan PMDN dalam laporan ringkas ini. Namun komposisi geografis dan subsektor menunjukkan pola yang sama dengan beberapa kuartal sebelumnya: hilirisasi logam dan kawasan industri Jawa tetap menjadi tulang punggung realisasi investasi.