KOTA TANGERANG — Pemkot Tangerang tidak hanya menyasar sisi pendidikan, tetapi juga faktor sosial dan kondisi keluarga dalam upaya menekan angka anak tidak sekolah (ATS). Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang, Wahyudi Iskandar, menegaskan bahwa verifikasi data menjadi langkah awal yang krusial sebelum intervensi dilakukan.
“Selain penguatan data, Pemkot Tangerang juga menyiapkan tim penanganan lintas sektor. Tim tersebut akan melibatkan sejumlah perangkat daerah dan unsur kewilayahan agar penanganan tidak hanya dilakukan dari sisi pendidikan, tetapi juga dapat menyentuh faktor sosial, administrasi kependudukan, perlindungan anak, hingga kondisi keluarga,” ujar Wahyudi, Kamis (20/8/2026).
Data Disinkronkan, Petugas Turun ke Lapangan
Untuk memastikan sasaran yang tepat, data pendidikan akan disinkronkan dengan data pokok pendidikan dan pusat data pendidikan. Proses ini diperlukan agar identitas dan alamat anak yang masuk dalam data ATS dapat diverifikasi secara akurat.
Verifikasi tidak berhenti di atas kertas. Operator sekolah, kelurahan, dan kecamatan dilibatkan untuk memastikan kondisi anak di lapangan sekaligus memperbarui data berdasarkan temuan terbaru. Dengan begitu, pendataan menjadi lebih dinamis dan sesuai kondisi riil.
Home Visit: Menggali Kendala Keluarga
Setelah data valid, intervensi langsung dilakukan ke anak dan keluarga melalui kunjungan atau home visit. Pendekatan ini dinilai penting untuk memahami alasan anak putus sekolah serta memberikan edukasi tentang pilihan pendidikan yang tersedia.
“Dari sisi akses pendidikan, intervensi akan dilakukan melalui program home visit bersama perangkat kewilayahan. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu memberikan edukasi kepada keluarga sekaligus memahami kendala yang membuat anak tidak melanjutkan pendidikan,” katanya.
Cegah Kasus Baru: Fokus Transisi SD ke SMP
Pemkot Tangerang juga menyiapkan langkah pencegahan agar tidak muncul ATS baru, terutama pada masa transisi dari jenjang SD ke SMP. Sejumlah program akan dioptimalkan, antara lain sekolah gratis, Tangerang Cerdas, serta pendidikan kesetaraan melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dengan program Paket A, Paket B, dan Paket C.
Selain itu, kualitas lingkungan belajar turut ditingkatkan melalui penerapan pembelajaran mendalam, pembiasaan positif melalui 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, serta penguatan sekolah ramah anak.
Dashboard Monitoring Terpadu untuk Intervensi Tepat Sasaran
Pemkot Tangerang menyiapkan dashboard monitoring terpadu dengan memadankan data pendidikan, administrasi kependudukan, dan kesejahteraan sosial. Sistem ini akan menjadi dasar penentuan intervensi agar lebih tepat sasaran dan terukur.
Wahyudi menegaskan bahwa persoalan ATS tidak bisa diselesaikan oleh satu instansi saja. “Penanganan ATS ini tidak bisa dilakukan sendirian. Pemkot Tangerang akan terus melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan hak pendidikan dan mencegah munculnya kasus baru,” ujarnya.